SEMARANG – Nomor punggung tak sekadar pemanis jersey. Ada kisah unik, nyeleneh dan berbau mistis yang membuat kombinasi angka-angka itu dianggap bisa memberi energi ekstra bagi pemakainya.
Penggunaan nomor punggung sebenarnya punya fungsi yang sangat sederhana, yakni memudahkan wasit untuk mengenali pemain yang berada di atas lapangan. Dalam perkembangannya, nomor punggung juga menjadi identitas si pemain, yang sangat erat kaitannya dengan sisi bisnis, terutama untuk penjualan jersey dan merchandise.
Sejak FIFA melegalkan pemain menggunakan nomor punggung dari 1-99, berbagai kisah menarik bermunculan dari para pesohor lapangan hijau. Bahkan ada juga nomor punggung yang dianggap membawa keberuntungan bagi sang pemain.
Kiper Gianluigi Buffon pernah memicu kontroversi saat dia memilih nomor 88 semasa berseragam Parma. Angka itu identik dengan fasisme, karena bisa diartikan sebagai ‘Heil Hitler (HH)’, jika disusun sesuai abjad.
Winger Manchester United Antonio Valencia akhirnya menanggalkan angka 7 karena merasa memikul beban berat ketika mewarisi nomor para legenda Setan Merah itu. Hasilnya cukup tokcer. Permainannya kembali mengkilap sejak dia mengenakan nomor 25 yang dulu dipakai semasa bermain untuk Wigan Athletic.
Nah, beragam kisah unik juga terselip di balik nomor punggung yang dipilih para penggawa PSIS Semarang. Menariknya, musim ini tak ada yang meminati nomor 9 dan 10. Padahal, dua nomor tersebut termasuk cukup populer bagi pesepakbola.
Gabriel Batistuta bahkan sempat memohon kepada Vincenzo Montella agar bersedia memberikan nomor 9 saat hijrah dari Fiorentina ke AS Roma. Maklum, nomor tersebut memang identik dengan attacante atau striker murni. Lalu kisah Ronaldinho dan Clarence Seedorf yang bersitegang karena sama-sama ngotot ingin mengenakan jersey nomor 10 di AC Milan, yang biasa dipakai pemain-pemain top masa lalu.
Musim ini, nomor 10 PSIS sebenarnya sempat menjadi milik Noorhadi. Tapi, nomor itu kembali tak bertuan setelah mantan penggawa Persijap tersebut resmi didepak, hanya satu bulan sejak ia bergabung dengan skuat Mahesa Jenar. Di musim sebelumnya, nomor tersebut cukup sukses saat dikenakan Julio Alcorse, yang sanggup mendonasikan 13 gol buat PSIS.
Striker Hari Nur Yulianto juga masih setia dengan angka 22. Meski mengaku tak ada arti khusus, Mukri—sapaan akrabnya—merasa cukup nyaman dengan pilihannya itu. “Saya memang suka nomor itu, tidak ada arti khusus atau sugesti tertentu,” ujarnya. Dengan nomor tersebut, pemilik akun twitter @hny_22 itu sukses menjaringkan 20 gol selama dua musim berseragam PSIS.
Tahun kelahiran dipilih kiper Syaiful Amar. Eks kapten Persik Kendal ini memilih angka 91 di jerseynya. Sedangkan, penggawa anyar Corneles Geddy memilih nomor 52. Pemain asal Papua ini sebenarnya mengincar angka 25, sesuai tanggal kelahirannya. Namun, nomor tersebut sudah menjadi milik fullback Andreantono Ariza.
Gelandang muda Ahmad Agung juga memiliki alasan khusus ketika memutuskan memilih nomor 24. Pemain yang bakal memulai musim debutnya bersama Mahesa Jenar ini, memaknai angka tersebut sebagai bentuk dukungan dari keluarganya. “Saya anak kedua dari dua bersaudara, jadi pilih angka 24. Saya berharap bisa merasa dekat dengan keluarga,” tutur pemain 18 tahun ini.
Kisah berbeda dimiliki Bakori Andreas Safaringga, yang memutuskan mengenakan jersey bernomor 87. Nomor itu sangat familier di Malang, tempatnya berasal. “Angka itu sesuai tahun kelahiran Arema Malang. Sejak kecil, saya memang bercita-cita bisa main untuk Arema. Tapi, saat ini saya siap memberikan yang terbaik buat PSIS,” urainya.
Wingback Welly Siagian juga punya cerita di balik alasannya menanggalkan nomor 5 dan berganti menjadi 67. Pemain yang musim kemarin mengoleksi kartu kuning terbanyak ini juga menyebut angka tersebut masih ada kaitannya dengan keluarga. “Angka 6 adalah tanggal kelahiran kakak saya dan 7 tanggal kelahiran saya. Selain itu, saya juga ingin ganti suasana baru, dengan nomor yang baru,” beber adik kandung bek PSCS Cilacap, Julia Mardiansyah Siagian ini.
Kisah romantis terselip di balik angka 12 milik penjaga gawang Ega Rizky. Eks kiper PSCS Cilacap itu ingin mengabadikan tanggal jadian dengan wanita yang sudah tiga tahun terakhir menjadi teman dekatnya. “Baru tahun ini kesampaian bisa pakai nomor 12, sesuai tanggal jadian dengan pacar. Sebelumnya, di PSCS pakai 21 karena nomor 12 sudah terisi. Ya, mudah-mudahan tahun depan bisa kesampaian menikah,” ujarnya.
Pelatih M Dofir pun memberi kebebasan anak buahnya untuk menentukan nomor punggung. Dia tak terlalu mempermasalahkan nomor yang dipilih. “Pembuktian ada di atas lapangan. Nomor berapapun yang dipakai, tak jadi soal asal tetap main bagus,” tandasnya. (twy)

No comments:
Post a Comment