Wednesday, September 30, 2015

Jumat, 5 Juli 2002 SEMARANG - Manajer Tim PSIS Yoyok Sukawi mulai tertarik pada pelatih Daniel Roekito, pelatih asal Semarang yang baru saja membawa Arema Malang, lolos '8 besar' KLI VIII.
"Kami baru saja minta pertimbangan dengan Mas Yoyok (Ir Yoyok Mardijo-Red). Beliau juga sepakat dengan Daniel Roekito, setelah melihat prestasi yang diperlihatkan, dengan materi seperti itu Arema bisa lolos '8 besar'," jelas Yoyok, sore kemarin.
Dia mengaku, beberapa hari lalu sudah menghubungi Roekito lewat telepon. "Kami hanya sebatas menghubungi, belum ada pembicaraan lebih lanjut," tambahnya.
"Saya akan bertemu Daniel Roekito besok atau Jumat siang untuk membahas hal itu karena reputasi pelatih asal Semarang itu sudah tidak bisa diragukan lagi," katanya.
Hanya, kata dia, ketika dihubungi, mantan pelatih Barito Putra Banjarmasin itu sedang di Jakarta untuk menyaksikan pertandingan semifinal KLI VIII antara Semen Padang dan Petrokimia Gresik di Stadion Gelora Bung Karno.
"Tetapi yang bersangkutan sudah menyanggupi untuk bertemu dengan saya Jumat siang (hari ini-Red)," katanya menegaskan.
Saat menyinggung soal pelatih asal Korea yang ditawarkan oleh salah seorang pengusaha Semarang, dia mengatakan, memang dia mendapat tawaran dari pengusaha Semarang untuk menggunakan pelatih asal Korea, tetapi setelah berbicara dengan Yoyok Mardijo, PSIS tetap akan memfokuskan untuk menggunakan pelatih dalam negeri dulu.
"Makanya, saya langsung kontak Daniel Roekito untuk membicarakan kemungkinan melatih tim Mahesa Jenar di LI IX," ungkapnya.
Mengenai pembentukan ofisial tim, dikatakannya sudah ada kerangkanya, tetapi putra kedua Ketua Umum PSIS H Sukawi Sutarip SH itu belum berani menyebutkan nama-nama ofisial yang dimaksud. "Nama-namanya sudah ada, tidak etis kalau kami umumkan sekarang, karena nama-nama itu akan kami konsultasikan dulu dengan Ketua Umum. Tunggu dua atau tiga hari lagi, ofisial tim itu akan kami umumkan setelah SK dari Ketua Umum turun."
Sementara itu, Daniel Roekito yang dihubungi saat menyaksikan semifinal KLI VIII antara Petrokimia Putra dan Semen Padang di Stadion Bung Karno semalam, mengaku sudah dihubungi dua kali oleh pihak PSIS.
"Tolong jangan dibesar-besarkan dulu, karena pembicaraan itu baru sebatas lewat telepon. Kami juga belum memberi jawaban, karena ingin bertatap muka secara langsung," tutur Roekito lewat HP-nya. (C16-57t)

Tuesday, September 29, 2015

Kamis, 4 Juli 2002 Yoyok Sukawi - SM/dok

SEMARANG - Manajer Tim PSIS Yoyok Sukawi sudah menyebut beberapa orang yang akan menjadi pendamping dia sebagai ofisial tim. Kepala Bagian Umum Pemerintah Kota Semarang, Drs Soemarmo HS, dipastikan menjabat wakil manajer tim untuk urusan tim ke dalam. Adapun dia akan lebih banyak berkonsentrasi urusan tim PSIS keluar.
Dia juga menyebut beberapa orang lama yang bakal dipertahanan. Antara lain dr Elang Sumambar sebagai dokter tim, Purwanto (bidang disiplin), Rosidin dan Suyatno (pembantu umum), Drs Didek Nirwono (massuer).
"Ini baru gambaran sementara, karena belum resmi. Sewaktu-waktu bisa berubah. Mengenai bendahara, humas, sekretaris, wakil manajer II masih terus kami godok. Mudah-mudahan minggu ini bisa kami umumkan," ujar Yoyok, siang kemarin.
Yoyok, panggilan sehari-hari Alamsyah Satyanegara Sukawi Jaya, sudah mempunyai pandangan siapa yang bakal menjadi humas tim, Sekretaris Umum PSIS Prijo Anggoro .
Dengan pertimbangan, sejak menjabat Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kota sampai sekarang sebagai Kepala Dinas Kebakaran Pemerintah Kota, Prijo dekat dengan wartawan.
Pemilihan Pelatih
Putra kedua Ketua Umum PSIS Sukawi Sutarip SH itu saat ini harus bekerja ekstrakeras untuk mengejar batas waktu dari Ketua Umum, yang sudah mengintruksikan awal Agustus mulai merekrut pemain.
"Karena itulah ofisial tim harus segera terbentuk. Setelah itu baru membicarakan siapa pelatihnya. Asisten pelatih, pelatih fisik, asisten pelatih kiper sepenuhnya kami serahkan ke pelatih baru nanti."
Dia mengakui sudah beberapa calon pelatih unggulan. Antara lain Daniel Roekito, Suharno, dan Edy Paryono yang masih berkesempatan dipertahankan.
"Ketua Umum juga memberi masukan tentang pelatih Korea. Hanya namanya belum jelas. Dia pernah datang ke Indonesia, sehingga masuk dalam bursa pelatih."(C16-57g)
Selasa, 2 Juli 2002 SEMARANG - Setelah ditunggu cukup lama, akhirnya Ketua Umum PSIS Sukawi Sutarip SH mengeluarkan surat keputusan (SK) pengangkatan terhadap Alamsyah Satyanegara Sukawi Jaya sebagai Manajer Tim PSIS Utama menggantikan Ir Yoyok Mardijo, yang tidak bersedia dipilih lagi.
Putra kedua Sukawi Sutarip itu - panggilan sehari-harinya juga Yoyok, sama halnya dengan panggilan Ir Anggoro Mardi Husodo, Manajer PSIS sebelumnya - sejak kemarin resmi menjadi Manajer Tim PSIS lewat SK No 20/178/KU/VII/2002, tertanggal 1 Juli 2002.
''Baru sekarang kami berani bicara berterus terang, karena sudah disahkan lewat SK. Kami meminta semua pihak ikut mendukung, dengan harapan pada kompetisi mendatang bisa terbentuk tim PSIS Utama yang tangguh,'' tutur Sekum PSIS Prijo Anggoro BR SH MSi, kemarin.
Setelah disahkan menjadi manajer tim sampai berakhirnya KLI IX, pihaknya berharap Yoyok segera menjalankan tugasnya, dengan menunjuk pendamping-pendamping yang dianggap lebih cocok.
Setelah wakil manajer dan ofisial yang lain terpilih, baru kemudian menentukan pelatih, yang tugasnya memilih asisten pelatih, untuk menentukan pemain-pemain yang dikehendaki.
''Saya sebagai sekum tetap akan all out mendukung manajer terpilih, seperti yang sudah terjadi pada kompetisi sebelumnya. Kami tetap berharap, PSIS bisa lebih maju lagi.''
Banyak Belajar
Sementara itu, Alamsyah Satyanegara Sukawi Jaya kepada Suara Merdeka semalam mengaku masih harus banyak belajar tentang sepakbola, terutama mengenai jabatan yang diembannya.
''Saya harus lebih banyak belajar tentang sepakbola, terutama belajar kepada Mas Yoyok (Yoyok Mardijo - Red), yang kami anggap sukses membawa PSIS juara Divisi I dan bertahan di Divisi Utama,'' jelasnya.
Sampai saat ini dia masih belum mempunyai gambaran tentang PSIS di masa mendatang, karena harus konsultasi dulu dengan pakar-pakar bola di Semarang sebelum melangkah ke persiapan tim.
''Mas Yoyok juga sudah ada kesanggupan untuk membantu saya, sehingga dalam waktu dekat ini akan kami adakan pertemuan khusus, untuk membahas persiapan tim. Tanpa dukungan mereka, kami tidak ada artinya,'' tambahnya.
Sementara itu, Ir Yoyok Mardijo masih tetap komitmen terhadap kemajuan PSIS, kendati sudah lepas jabatan. ''Saya tidak bisa lepas dari PSIS, sehingga siap membantu,'' janjinya.
Bahkan, beberapa waktu yang lalu dirinya sudah memberanikan diri usul ke PSSI, pada KLI mendatang dari 20 tim di Divisi Utama supaya dijadikan satu grup, dengan kompetisi penuh.(C16-57t)
SEMARANG- Kendati SK pengangkatan manajer tim PSIS Semarang untuk KLI IX belum turun, tetapi di kalangan tokoh bola Semarang beredar kabar bahwa Yoyok Sukawi, putra Wali Kota Sukawi Sutarip, bakal menduduki jabatan itu.

Sekum PSIS Prijo Anggoro saat dikonfirmasikan juga membenarkan kabar tersebut. Bahkan menurut Prijo, Yoyok akan dibantu birokrat tulen Sumarmo, yang sekarang menjabat kepala Bagian Umum Pemkot Semarang.
"Yoyok Sukawi menjadi satu-satunya nama yang dilirik pengurus untuk menduduki jabatan tersebut. Ia akan dibantu Pak Marmo (Sumarmo-Red)," kata Prijo, yang juga kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkot.
Bukankah Yoyok Sukawi belum menguasai pernik-pernik sepakbola? Prijo menjawab, nantinya bakal dibantu orang-orang yang tahu bola. Yang penting Yoyok Sukawi memegang manajamennya, sedangkan beberapa asistennya merupakan "orang-orang bola".
"Yang lebih penting lagi, dari Yoyok Sukawi itu bisa diambil kepemimpinannya. Apalagi dia seorang pengusaha," katanya.
Selain menjabat wali kota, Sukawi juga menjabat ketua umum PSIS. Kalau Sukawi sebagai ketua umum mengeluarkan SK pengangkatan anaknya sebagai manajer tim PSIS untuk KLI IX, maka ada dua putra Wali Kota yang memegang jabatan penting di institusi sepakbola ini. Sebelumnya Sukawi juga menunjuk anaknya yang lain, Suka Adi Satya, sebagai Asisten Manajer Tim PSIS Yunior yang akan berlaga di Kompetisi Liga Remaja/Piala Suratin Tingkat Nasional.
"Legawa"
Yoyok Mardijo, yang dalam dua kompetisi terakhir menjadi manajer tim, mengaku tidak masalah jika Ketua Umum PSIS menunjuk Yoyok Sukawi sebagai penggantinya. Sebab, hal itu merupakan wewenang Ketua Umum untuk menentukan orang-orang yang dianggapnya pantas untuk menduduki jabatan itu.
"Saya legawa jika ada orang muda yang duduk sebagai manajer tim. karena ini sekaligus untuk proses regenerasi. Biar di Semarang muncul manajer-manajer tim yang muda usia," katanya.
Ia tidak mempersoalkan penilaian orang bahwa Yoyok Sukawi tak menguasai bola. Sebab, hal itu bisa dipelajari sambil jalan. Bahkan, dia pun dulu seperti itu. Semula tidak menguasai sepakbola, kemudian belajar selama dua periode (Divisi I dan Divisi Utama), sampai akhirnya bisa seperti sekarang.
"Yang penting para asisten manajer sebaiknya merupakan orang-orang yang tahu sepakbola," katanya. Selain itu, peran pelatih, asisten pelatih, dan lainnya sangat penting untuk membentuk tim yang solid. (ant-48)

Monday, September 28, 2015

Jalan Panjang Pemain Lokal PSIS (1)

Baru Dapat Tempat setelah Empat Tahun Magang


TIDAK KALAH: Kemampuan pemain lokal Semarang, M Ridwan (nomor 23) tidak kalah dari pemain asing yang dikontrak manajemen PSIS di kompetisi Liga Indonesia XII. (40) - SM/Budi Winarto


Sudah lebih dari 10 tahun Liga Indonesia digulirkan. Ratusan, bahkan ribuan pemain, keluar masuk dari satu tim ke tim yang lain. Transfer bebas berkembang pesat. Lebih dari 100 talenta asing tiap tahun ikut menyemarakkannya. Lalu, bagaimana nasib ''produk-produk'' lokal di klub-klub yang ambisius, termasuk PSIS Semarang? Wartawan Suara Merdeka, Budi Winarto, menurunkan tulisannya dalam dua seri.
AKSI-aksi pemain lokal PSIS dalam turnamen Piala Emas Bang Yos III cukup memikat. M Ridwan, Khusnul Yaqien, Idrus Gunawan, Yusuf Sutan Mudo, Denny Rumba, Eko Prasetyo, dan lainnya tidak kalah dari pemain-pemain asing. Apalagi jika dibanding pemain-pemain Indonesia ''sudah jadi'' yang dikontrak musiman oleh manajemen tim.
Tentu saja itu sangat membanggakan. Lantaran mereka merupakan produk lokal hasil pembinaan klub-klub anggota PSIS.
Lihat saja ketika M Ridwan dengan kelincahan dan kecepatannya meliuk-liuk bak belut licin melewati barisan pemain lawan, dari lapangan tengah ke kotak penalti. Begitu pula dengan Idrus Gunawan yang terkenal lugas menjaga daerah pertahanan bersama Eko Prasetyo. Mereka tidak kenal kompromi. Bahkan tak jarang permainan keras dan kasar dilakukan terhadap striker lawan untuk mengamankan daerah pertahanan PSIS.
Di lini depan ada Khusnul Yaqien yang punya fighting spirit tinggi dan juga insting gol tajam. Mantan pemain PS Undip itu begitu gigih melewati adangan pemain belakang lawan, walau sering menjadi sasaran permainan keras dan kasar lawan. Pemain-pemain muda Mahesa Jenar seperti Yusuf Sutan Mudo dan Denny Rumba yang baru memulai debutnya di PSIS musim ini pun sering menghidupkan serangan lewat sayap, dengan mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan crossing.
Namun, untuk memperoleh kematangan dan menjadi anggota tim inti tidak bisa secepat dan semudah membalik telapak tangan.
Perlu proses panjang, ketekunan, dan kerja keras. Bahkan, pemain kelas dunia pun tidak langsung lahir menjadi bintang saat terjun di klub profesionalnya.
Oliver Kahn misalnya. Kiper Bayern Muenchen yang juga anggota timnas Jerman ini butuh waktu tiga tahun setelah memulai debutnya di Bundesliga tahun 1990 untuk menjadi yang terbaik di Liga Jerman. Begitu pula dengan Peter Schmeichel. Kiper timnas Denmark tersebut butuh waktu sekitar 2,5 tahun untuk mencapai kejayaannya bersama klub Brondy Denmark tahun 1987-1991, sebelum direkrut Manchester United Inggris tahun 1991. Ryan Giggs, pemain yang bergabung dengan Manchester United sejak umur 14 tahun (1987) pun baru bisa menjadi starter di tim berjuluk Setan Merah pada musim kompetisi 1991/1992.
Proses panjang itu disadari, dan dilalui juga oleh para pemain lokal PSIS. M Ridwan misalnya, yang akrab disapa Tong Eng ini, sudah lima musim membela tim kebanggaan warga Semarang. Mulai Liga Indonesia VI (1999/2000) hingga LI VIII, dia memakai seragam PSIS. Dua tahun berikutnya dia hengkang ke klub lain, Pelita KS dan Persegi Gianyar. Selepas itu, mudik lagi pada LI XI-XII.
Ridwan baru benar-benar matang sekitar empat tahun setelah menjadi pemain pro. Proses kematangan tersebut, menurutnya, tidak lepas dari kepercayaan dan kesempatan yang diberikan pelatih. Semakin jarang pelatih memberi kesempatan pemain untuk turun bertanding, akan kian lama pemain tersebut mencapai kematangan.
Hal tersebut sudah dialaminya ketika gabung PSIS di LI VI, Divisi I, dan LI VIII. Di tim Kota Atlas itu, pemain kelahiran 8 Juli 1980 tersebut kurang diberi kesempatan bermain penuh sepanjang pertandingan. Tak heran, predikat spesialis babak kedua pun melekat padanya.
Namun setelah merantau ke Pelita KS dan Persegi Gianyar, kesempatan untuk main begitu luas. Pemain yang mencetak sembilan gol saat bergabung di Persegi itu selalu menjadi pemain starter. Jam terbang dan pengalaman tinggi tersebut membuat dirinya semakin matang dan percaya diri dalam mengolah si kulit bundar.
''Jika sering dimainkan, kita bisa tahu karakter pemain-pemain lawan, baik asing maupun lokal. Itu akan memperkaya pandangan kita dalam bermain. Selain itu, mental bertanding pun juga akan semakin baik,'' kata Ridwan.
Pengalaman Tong Eng itu juga dialami Idrus Gunawan. Tempatnya utamanya sebagai stoper di Mahesa Jenar diraih lewat perjuangan keras. Sejak bergabung pada musim ke-7 Liga Indonesia (Divisi I) hingga LI VIII, Idrus jarang dimainkan. Saat tim Kota Lunpia itu diarsiteki Daniel Roekito di LI IX, dia baru mulai mendapat tempat di lini belakang, mendampingi Bonggo Pribadi.
Lalu pada LI X, di bawah asuhan Cornelis Soetadi dan dilanjutkan Hery Kiswanto, Idrus mulai jadi starter. Kemampuannya semakin matang dan terasah kala diasuh oleh Bambang Nurdiansyah. Dia tidak lagi bermain keras dan sembrono menghalau bola, tapi lebih sabar dan taktis.
''Untuk mendapatkan kepercayaan dan diberi kesempatan pelatih, tentu saja kita harus berusaha keras. Selalu belajar dan belajar untuk meningkatkan kemampuan. Dan yang penting, jangan mudah putus asa dan menyerah,'' tegas Idrus. (40)
Persijap Terinspirasi Memori 2005
JEPARA - Duel Persijap Jepara kala menjamu PSIS Semarang pada lanjutan Kompetisi Liga Djarum Indonesia di Stadion Kamal Djunaidi, Minggu (12/3) sore ini sarat dengan nuansa kenangan. Pertandingan ini akan mengingatkan memori kedua tim yang sepanjang 2005 lalu pernah bertemu tiga kali. Namun pada pertandingan sore ini, PSIS memilih sikap melupakan memori, sementara kubu Persijap seakan terinspirasi.
Pada Februari 2005, sebelum kompetisi liga bergulir, kedua tim berjumpa pada pertandingan persahabatan yang tetap sengit di Stadion Kamal Djunaidi. Ketika itu skor berakhir imbang 0-0.
Di ajang liga 2005 lalu, kedua tim menjalani kompetisi di wilayah yang berbeda, Persijap di wilayah timur dan PSIS di barat. Pertemuan resmi liga kedua tim sore ini merupakan yang pertama, setidaknya dalam tiga dasawarsa. Sejak berdiri pada 1954 atau selama kurang lebih 30 tahun, Persijap belum begitu bersinar di kancah nasional. Baru pada 1982, Persijap unjuk bukti dengan meraih supremasi tertinggi liga remaja dengan menggondol Piala Suratin, setelah mengempaskan Persib Bandung pada partai final di Stadion Diponegoro Semarang.
Persijap melaju ke partai puncak setelah mengandaskan ambisi juara bertahan PSMS Medan, sedangkan Persib memulangkan Persisam Samarinda. Sebelum itu, pada 1973 atau era Kamal Djunaidi, pemain legendaris yang namanya diabadikan menjadi nama stadion, Persijap menjuarai Piala Makutarama, setelah menang di partai final atas Persipa Pati. Sayang, anak-anak asuhan Lasidin, pelatih elegan itu harus terkena musibah tersambar petir di Stadion Salatiga. Kamal Djunaidi meninggal dunia di partai bersejarah itu. Persijap untuk kali pertama melenggang ke Divisi I pada 1991, setelah berkiprah di Divisi II beberapa tahun.
Sepanjang perjalanan Persijap itu, nama besar PSIS tak bisa dilupakan. Klub yang berusia 23 tahun lebih tua dari Persijap ini menjadi langganan peserta kompetisi Divisi Utama PSSI. Bahkan, tim ini meraih juara pada 1986/1987. Pada saat Persijap kali pertama naik ke Divisi Utama pada 2000/2001, justru PSIS terdegradasi, setelah pada musim sebelumnya meraih gelar juara.
Perjumpaan resmi kedua tim adalah Piala Indonesia pada 2005 lalu. Ketika itu, Persijap mampu mengatasi PSIS Semarang dengan skor 2-1 (di Jepara) dan 3-2 (di Semarang). Di skuad PSIS Semarang saat ini masih ada - setidaknya - sembilan pemain yang terlibat dalam duel 2005. Mereka adalah Fofee Kamara, Idrus Gunawan, Modestus Setiawan, Hari Salisburi, M Ridwan, Indriyanto Nugroho, I Komang Putra, dan Agus Murod. Sementara di Skuad Persijap, hanya ada empat pemain yang merasakan pertemuan itu. Mereka adalah Evaldo da Silva, Edward Isir, Kasiyadi, dan Phaitoon Thiabma.
Wajar pertemuan mereka pada pertandingan liga sore ini merupakan kenangan yang mau tidak mau harus berlanjut, meski di kompetisi yang berbeda. Evaldo , Kapten Tim Persijap memberikan spirit kepada rekan-rekannya, termasuk yang belum pernah ''berjumpa'' dengan PSIS. Dia meminta mereka tampil total dan tak keberatan menjadikan kenangan masa lalu itu sebagai inspirasi meraih sukses yang sama. ''Semuanya harus tampil total dan mengeluarkan seluruh kemampuan. Ini partai lebih dari sekadar rutinitas kompetisi,'' kata pemain asal Brasil itu.
Tak Lihat Belakang
Sementara itu, para pemain PSIS tak ambil pusing dengan rekor pertemuannya dengan Persijap. Indriyanto Nugroho keberatan mengenang memori 2005 itu.
''Kami tekankan kepada rekan-rekan untuk tidak melihat ke belakang. Kami tertarik dengan besarnya fighting spirit tim kami menjelang pertandingan,'' ungkapnya usai mengikuti latihan di Stadion Kamal Djunaidi, Sabtu (12/3).
Ia yang belum pernah mencetak gol selama kompetisi 2006 ini bertekad bisa mencetaknya di gawang Persijap. ''Saya akan berusaha maksimal bisa mencetak gol,'' lanjutnya.
Penegasan melupakan memori juga dilontarkan Hari Salisburi. Pemain yang memiliki akurasi tendangan bebas itu yakin, timnya bisa meraih kemenangan dan menghentikan memori kelam 2005.
''Tidak karena sejarah itu. Saya menganggap partai ini penting. Ini pertandingan biasa. Jika kami bisa melakukan kreasi dalam permainan nanti, itu akan memuluskan kami untuk me nang,'' tutur pemain yang mengawali karier bersama Bina Taruna Persijatim Solo itu. (H15-28m)

LEGENDA RIBUT WAIDI (1984-1992)

Malam itu, 20 September 1987, papan skor di Stadion Senayan masih menunjukkan angka 0-0 hingga menit ke-90. Di dalam stadion yang terletak di jantung kota Jakarta tersebut, 22 penggawa Indonesia dan Malaysia "bertarung" sengit untuk menorehkan nama negaranya di partai puncak cabang sepak bola SEA Games. Ratusan ribu penonton pun berharap cemas dapat menjadi saksi mata torehan kisah emas sepak bola Indonesia.

Peluit panjang wasit ditiup pada menit ke-90+2. Laga kemudian dilanjutkan dengan babak tambahan. Menit ke-105, menyisir dari sayap kanan dengan ditempel satu bek Malaysia, gelandang Ribut Waidi menggiring bola dengan lincah. Lepas dari kawalan, pemain lincah berambut ikal itu kemudian melepaskan tembakan mendatar ke gawang Malaysia. Gol! Sontak histeria 120.000 pendukung yang memadati Stadion Senayan serta jutaan penonton televisi nasional tumpah ruah.

Gol dari kaki Ribut itu akhirnya mampu memberikan medali emas pertama bagi Indonesia di ajang SEA Games. Ribut kemudian diarak mengelilingi lapangan oleh penggawa timnas lainnya. Saat lagu "Indonesia Raya" dikumandangkan di lapangan, hanya satu yang ia rasakan, yaitu rasa bangga luar biasa karena dapat mengharumkan bangsa melalui sepak bola.
Ribut Waidi yang mencetak gol satu-satunya di gawang Malaysia



Apalagi, kemenangan itu terasa sangat manis karena Indonesia akhirnya sukses di bawah bayang-bayang pahit SEA Games 1979. Saat itu, di stadion, bulan, dan lawan yang sama pada final SEA Games, Indonesia diempaskan Malaysia 0-2 pada 30 September 1979. Memang, jika bertemu tim asal negeri jiran tersebut, pertandingan bukan lagi sekadar laga biasa, melainkan pertaruhan harga diri bangsa.

"Waktu itu jalannya pertandingan memang sangat menegangkan. Yang lebih menegangkan lagi, gol itu terjadi pada menit ke-15, perpanjangan waktu. Meski saya anak ndeso, saya sudah ikut memberikan yang terbaik bagi bangsa ini melalui sepak bola," kenang Ribut atas golnya tersebut.

Anak desa menjadi legenda
Melihat sepenggal kisah tersebut, Ribut Waidi memang pantas dikenang sebagai legenda sepak bola Indonesia. Lahir di Pati, Jawa Tengah, 5 Desember 1962, Ribut sejak kecil memang mengidolakan sepak bola. Karena kecintaannya terhadap sepak bola itulah, ia akhirnya memutuskan untuk serius menggeluti dunia tersebut.

Ribut mengawali karier sebagai pesepak bola bersama PS Sukun Kudus pada 1976 hingga 1980. Setelah itu, gelandang bertubuh kecil kurus itu melanjutkan petualangannya bersama Persiku Kudus (1980), PS Kuda Laut Pertamina Semarang (1981-1984), dan PSIS Semarang (1984-1992). Pada era 1980-an, bersama PSIS, karier Ribut pun melesat di Tanah Air.

Pada 1987, nama Ribut seketika melambung, setelah sukses mengantarkan "Mahesa Jenar"—julukan PSIS—menjadi juara Liga Perserikatan seusai menaklukkan Persebaya Surabaya dalam partai final yang digelar di Stadion Senayan. Ia tampil sangat cemerlang dan gigih dalam laga itu. Meski gol tunggal kemenangan PSIS dicetak oleh Tugiman, Ribut berhasil mencatatkan namanya sebagai pemain terbaik dalam laga tersebut.

Ribut Waidi saat membela PSIS Semarang (1984-1992)

Berkat kesuksesannya itu, perjalanan Ribut berlanjut ke level lebih tinggi bersama timnas Indonesia. Ketika itu, timnas "Garuda" memang sedang membangun proyek besar untuk membangun tim untuk kejuaraan internasional. Bagaimana tidak, sebelumnya Indonesia selalu mengalami kegagalan di level Asia Tenggara. Bahkan, di laga terakhirnya, Indonesia dibantai Thailand 0-7 pada final SEA Games 1985.

Sosok di balik kesuksesan itu memang tak lepas juga dari andil Pelatih Bertje Matulapelwa. Mendiang yang dijuluki "Sang Pendeta" itu mampu menyatukan sejumlah pemain Galatama dan Perserikatan, yang ketika itu dirumorkan tidak akur. Talenta berbakat dari Perserikatan, di antaranya Ribut, Robby Darwis, dan Budi Wahyono, dipadukan dengan pemain dari Galatama, seperti Ricky Yakobi dan Nasrul Koto.

Walhasil, tim itu meraih kesuksesan pertamanya saat mampu menjuarai Piala Kemerdekaan III setelah mengalahkan Aljazair XI 2-1 pada 1987. Timnas unggul lebih dulu berkat gol Ricky Yakobi pada menit ke-26. Namun, satu menit menjelang akhir pertandingan, Aljazair berhasil membalas melalui Amar Kabrane. Laga dilanjutkan ke babak tambahan. Dan, dari kaki Ribut pada menit ke-103, Indonesia akhirnya mampu menjuarai turnamen tersebut.

Kepahlawanan Ribut kemudian berlanjut di ajang yang lebih bergengsi, yakni SEA Games 1987. Gol tunggalnya di partai puncak tidak hanya mengantarkan Indonesia berhasil meraih medali emas pertamanya. Namun, Indonesia yang sebelumnya hanya menjadi juru kunci di kualifikasi Olimpiade 1988, di bawah Jepang dan Singapura, mampu unjuk gigi kepada dunia!

Gol itu tidak hanya menciptakan sejarah manis bagi sepak bola Indonesia, tetapi juga menjadi kenangan indah bagi Ribut secara pribadi. Bahkan, tak tanggung-tanggung, Pemerintah Kota Semarang sempat mendirikan patung Ribut Waidi yang sedang menggiring bola di Jalan Karang Rejo, Semarang. Setelah pensiun dari sepak bola, Ribut bekerja sebagai karyawan PT Pertamina. Namun, kecintaannya terhadap sepak bola tak luntur karena beberapa kali dia bermain di sejumlah turnamen di kota-kota kecil di pantura.

Suri teladan
Minggu (3/6/2012), Ribut (49) berpulang kepada Yang Mahakuasa karena penyakit jantung yang dideritanya. Jutaan pencinta sepak bola berduka ditinggal sang legenda. Memang, tak seorang pun pencinta sepak bola Tanah Air boleh melupakan jasa-jasa salah seorang pahlawan sepak bola Indonesia ini dalam mengharumkan nama bangsa.

Bahkan, melihat perjuangannya itu, rasanya pantas jika Ribut dijadikan contoh bagi sejumlah pesepak bola nasional saat ini. Apalagi, sekarang ini, di lingkup ASEAN saja, timnas Indonesia tidak menjadi tim yang patut disegani. Sejak emas terakhir SEA Games 1992, kegagalan kerap menghampiri skuad "Garuda". Tak ada lagi sebutan "Macan Asia" bagi timnas Indonesia terpampang di media nasional dewasa ini.

Karena hal itulah, keseriusan dan semangat nasionalisme yang dimiliki sejumlah pemain dan pengurus sepak bola Indonesia sangat wajar dipertanyakan. Perseteruan pengurus dan klub yang berimbas kepada sejumlah pemain terus menambah panjang rentetan masalah yang tak kunjung usai. Muara persoalan itu sudah dapat ditebak, yaitu menjadikan prestasi timnas mati suri.

Memang saat ini kondisinya sangat jauh berbeda. Sekarang sepak bola dapat menjadi ladang pekerjaan menjanjikan dengan keuntungan yang sangat menggiurkan. Akan tetapi, motivasi pada zaman Ribut, pemain tak pernah memikirkan materi, tetapi hanya untuk membawa Indonesia dapat disegani di tingkat Asia dan dunia. Itu yang tak pernah ditiru.

Kini, meskipun engkau sudah tiada, torehan emasmu akan tetap kekal di atas rumput Stadion Gelora Bung Karno dan benak jutaan rakyat Indonesia. Semoga kebesaran dan kenangan indah yang ditorehkan 2,5 dekade silam itu dapat selalu menjadi teladan bagi penggawa timnas dan pengurus sepak bola yang tengah berseteru.

Thursday, September 24, 2015

PSIS Semarang merupakan satu-satunya klub sepak bola profesional di Kota Semarang. Pada musim 1999, PSIS berhasil menjadi juara Liga Indonesia, namun pada musim kompetisi 2000 terdegradasi ke Divisi I. Pada musim 2006 bermain di Divisi Utama Liga Djarum Wilayah 1 dan meraih juara kedua setelah dalam final kalah 0–1 oleh Persik Kediri Pada tahun ini PSIS kembali berlaga di Indonesia Super League tanpa dana bantuan APBD sama sekali. Semarang United FC merupakan klub sepak bola yang mengikuti turnamen dalam ajang Liga Primer Indonesia.


Tuesday, September 22, 2015

Kisah Unik di Balik Nomor Punggung Penggawa PSIS

 

Hari Nur Yulianto (depan) masih percaya dengan ‘kesaktian’ nomor 22

SEMARANG – Nomor punggung tak sekadar pemanis jersey. Ada kisah unik, nyeleneh dan berbau mistis yang membuat kombinasi angka-angka itu dianggap bisa memberi energi ekstra bagi pemakainya.
Penggunaan nomor punggung sebenarnya punya fungsi yang sangat sederhana, yakni memudahkan wasit untuk mengenali pemain yang berada di atas lapangan. Dalam perkembangannya, nomor punggung juga menjadi identitas si pemain, yang sangat erat kaitannya dengan sisi bisnis, terutama untuk penjualan jersey dan merchandise.
Sejak FIFA melegalkan pemain menggunakan nomor punggung dari 1-99, berbagai kisah menarik bermunculan dari para pesohor lapangan hijau. Bahkan ada juga nomor punggung yang dianggap membawa keberuntungan bagi sang pemain.
Kiper Gianluigi Buffon pernah memicu kontroversi saat dia memilih nomor 88 semasa berseragam Parma. Angka itu identik dengan fasisme, karena bisa diartikan sebagai ‘Heil Hitler (HH)’, jika disusun sesuai abjad.
Winger Manchester United Antonio Valencia akhirnya menanggalkan angka 7 karena merasa memikul beban berat ketika mewarisi nomor para legenda Setan Merah itu. Hasilnya cukup tokcer. Permainannya kembali mengkilap sejak dia mengenakan nomor 25 yang dulu dipakai semasa bermain untuk Wigan Athletic.
Nah, beragam kisah unik juga terselip di balik nomor punggung yang dipilih para penggawa PSIS Semarang. Menariknya, musim ini tak ada yang meminati nomor 9 dan 10. Padahal, dua nomor tersebut termasuk cukup populer bagi pesepakbola.
Gabriel Batistuta bahkan sempat memohon kepada Vincenzo Montella agar bersedia memberikan nomor 9 saat hijrah dari Fiorentina ke AS Roma. Maklum, nomor tersebut memang identik dengan attacante atau striker murni. Lalu kisah Ronaldinho dan Clarence Seedorf yang bersitegang karena sama-sama ngotot ingin mengenakan jersey nomor 10 di AC Milan, yang biasa dipakai pemain-pemain top masa lalu.
Musim ini, nomor 10 PSIS sebenarnya sempat menjadi milik Noorhadi. Tapi, nomor itu kembali tak bertuan setelah mantan penggawa Persijap tersebut resmi didepak, hanya satu bulan sejak ia bergabung dengan skuat Mahesa Jenar. Di musim sebelumnya, nomor tersebut cukup sukses saat dikenakan Julio Alcorse, yang sanggup mendonasikan 13 gol buat PSIS.
Striker Hari Nur Yulianto juga masih setia dengan angka 22. Meski mengaku tak ada arti khusus, Mukri—sapaan akrabnya—merasa cukup nyaman dengan pilihannya itu. “Saya memang suka nomor itu, tidak ada arti khusus atau sugesti tertentu,” ujarnya. Dengan nomor tersebut, pemilik akun twitter @hny_22 itu sukses menjaringkan 20 gol selama dua musim berseragam PSIS.
Tahun kelahiran dipilih kiper Syaiful Amar. Eks kapten Persik Kendal ini memilih angka 91 di jerseynya. Sedangkan, penggawa anyar Corneles Geddy memilih nomor 52. Pemain asal Papua ini sebenarnya mengincar angka 25, sesuai tanggal kelahirannya. Namun, nomor tersebut sudah menjadi milik fullback Andreantono Ariza.
Gelandang muda Ahmad Agung juga memiliki alasan khusus ketika memutuskan memilih nomor 24. Pemain yang bakal memulai musim debutnya bersama Mahesa Jenar ini, memaknai angka tersebut sebagai bentuk dukungan dari keluarganya. “Saya anak kedua dari dua bersaudara, jadi pilih angka 24. Saya berharap bisa merasa dekat dengan keluarga,” tutur pemain 18 tahun ini.
Kisah berbeda dimiliki Bakori Andreas Safaringga, yang memutuskan mengenakan jersey bernomor 87. Nomor itu sangat familier di Malang, tempatnya berasal. “Angka itu sesuai tahun kelahiran Arema Malang. Sejak kecil, saya memang bercita-cita bisa main untuk Arema. Tapi, saat ini saya siap memberikan yang terbaik buat PSIS,” urainya.
Wingback Welly Siagian juga punya cerita di balik alasannya menanggalkan nomor 5 dan berganti menjadi 67. Pemain yang musim kemarin mengoleksi kartu kuning terbanyak ini juga menyebut angka tersebut masih ada kaitannya dengan keluarga. “Angka 6 adalah tanggal kelahiran kakak saya dan 7 tanggal kelahiran saya. Selain itu, saya juga ingin ganti suasana baru, dengan nomor yang baru,” beber adik kandung bek PSCS Cilacap, Julia Mardiansyah Siagian ini.
Kisah romantis terselip di balik angka 12 milik penjaga gawang Ega Rizky. Eks kiper PSCS Cilacap itu ingin mengabadikan tanggal jadian dengan wanita yang sudah tiga tahun terakhir menjadi teman dekatnya. “Baru tahun ini kesampaian bisa pakai nomor 12, sesuai tanggal jadian dengan pacar. Sebelumnya, di PSCS pakai 21 karena nomor 12 sudah terisi. Ya, mudah-mudahan tahun depan bisa kesampaian menikah,” ujarnya.
Pelatih M Dofir pun memberi kebebasan anak buahnya untuk menentukan nomor punggung. Dia tak terlalu mempermasalahkan nomor yang dipilih. “Pembuktian ada di atas lapangan. Nomor berapapun yang dipakai, tak jadi soal asal tetap main bagus,” tandasnya. (twy)

 

"Duet PSIS Semarang" Ribut Waidi dan Budi Wahyono membawa Indonesia Juara SEA Games 1987 


         Sepakbola Indonesia pada masa lampau mempunyai beberapa prestasi membanggakan. Tim Dutch East Indies yang berlaga di Piala Dunia 1938 diyakini adalah tim Indonesia yang saat itu belum merdeka. Pada 1955, Ramang, Tan Liong Houw dkk. berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0.
Meski begitu, prestasi di tingkat Asia Tenggara ternyata baru bisa diraih pertama kali oleh Tim Merah Putih pada SEA Games 1987 di Jakarta. Saat itu, sepakbola kita mengalami dua hal yang membanggakan sekaligus menyedihkan.
Kisah membanggakan diukir tim Garuda di ajang Asian Games Seoul 1986. Tim kita maju ke semifinal. Di perempatfinal, Indonesia mengalahkan Uni Emirat Arab, tim yang justru lolos ke Piala Dunia hanya empat tahun berselang, 6-5 lewat adu penalti. Hasil yang menggembirakan meski setelah itu Zulkarnaen Lubis dkk.a kalah 0-6 dari Korea Selatan di semifinal dan 0-5 dari Kuwait pada perebutan perunggu.
Kisah sedihnya pada pertengahan 1987 sepakbola kita dihebohkan oleh kasus suap lima pemain nasional ketika berhadapan melawan Singapura di Pra Olimpiade Seoul 1988. Waktu itu Indonesia kalah dari Singapura yang diperkuat Fandi Ahmad, David Lee dan Sundramoorthi.
Namun begitu pelatih timnas Bertje Matulapelwa terus berbenah menghadapi SEA Games. Dengan pola 4-3-3 Bertje menyiapkan para pemainnya. Duo kiper Ponirin Meka dan Eddy Harto. Bek Jaya Hartono, Robby Darwis (Persib), Herry Kiswanto (Krama Yudha Tiga Berlian), Marzuki Nyak Mad, Sutrisno. Gelandang Patar Tambunan (Persija), Nasrul Koto (Arseto), Rully Nere (Pelita Jaya), Azhary Rangkuti (Persija), dan Tridente yang terdiri dari striker Arseto, Ricky Yakobi (saat itu masih bernama Ricky Yakob), serta duet PSIS Semarang yang membawa klubnya juara perserikatan 1987, Ribut Waidi dan Budi Wahyono.
Pada babak penyisihan, Indonesia membantai Brunei Darussalam 5-0 pada partai pembuka. Kemudian menahan imbang tanpa gol tim tangguh Thailand yang diperkuat striker tajam, Piyapong Pue-on.


 Di semifinal, Burma yang kini bernama Myanmar digasak 4-1. Dan di final menghadapi Malaysia, tim Merah-Putih menang 1-0. Pada injury time menit ke-91, menyisir dari sisi sayap kanan dengan ditempel ketat satu bek Malaysia, Ribut Waidi menggiring bola dan melepas tembakan ke gawang Malaysia. Gol! Emas SEA Games pertama bagi sepakbola Indonesia. Itulah salah satu gelar bergengsi dari sedikit gelar yang bisa diraih tim senior sepakbola kita.

Prestasi itu diulang kembali oleh Sudirman cs. di SEA Games Manila 1991. Tapi sejak saat itu sepakbola SEA Games benar-benar dikuasai Thailand selama 18 tahun sebelum dipatahkan oleh Malaysia pada SEA Games Laos 2009.

GELAR JUARA ( Era Perserikatan 1931-1994 )
1. Persija Jakarta 9 Gelar
2. Persis Solo 7 Gelar
3. Persebaya Surabaya 6 Gelar
4. Persib Bandung 5 Gelar
5. PSMS Medan 5 Gelar
6. PSM Makassar 5 Gelar
7. Persiraja Banda Aceh 1 Gelar
8. PSIS Semarang 1 Gelar

 Palmares
Year    Venue       Champions                       Runners-Up
Kejurnas PSSI
1951                Persibaya (Surabaya)            PSM (Makassar)
1952                Persibaya (Surabaya)            Persija (Jakarta)
1953/54             Persija (Jakarta)               PSMS (Medan)
1955-57             PSM (Makassar)                  PSMS (Medan)
1957-59             PSM (Makassar)                  Persib (Bandung)
1959-61             Persib (Bandung)                PSM (Makassar)  
1962-64             Persija (Jakarta)               PSM (Makassar)  
1964/65             PSM (Makassar)              3-2 Persebaya (Surabaya)
1965/66             PSM (Makassar)              2-0 Persib (Bandung)
1966/67             PSMS (Medan)                2-0 Persib (Bandung)
1968/69             not held [*] 
1969-71             PSMS (Medan)                    Persebaya (Surabaya)
1971-73             Persija (Jakarta)               Persebaya (Surabaya)
1973-75             Persija (Jakarta) and PSMS (Medan) [shared]         
1975-78             Persebaya (Surabaya)        4-3 Persija (Jakarta)
 
Kejurnas Utama PSSI
1978/79 Jakarta     Persija (Jakarta)               PSMS (Medan)
 
Divisi Utama PSSI
1980    Jakarta     Persiraja (Banda Aceh)      3-1 Persipura (Jayapura)
1981-82 not held
1983    Jakarta     PSMS (Medan)                0-0 Persib (Bandung) [aet, 3-2 pen]
1984    not held
1985    Jakarta     PSMS (Medan)                2-2 Persib (Bandung) [aet, 2-1 pen]
1986    Jakarta     Persib (Bandung)            1-0 Perseman (Manokwari)
 >>>>>>>>>>>>>>>
 1986/87 Jakarta    PSIS (Semarang)             1-0 Persebaya (Surabaya)
 >>>>>>>>>>>>>>>
1987/88 Jakarta     Persebaya (Surabaya)        3-2 Persija (Jakarta)  [aet]
1988/89 not held
1989/90 Jakarta     Persib (Bandung)            2-0 Persebaya (Surabaya)
1990/91 not held
1991/92 Jakarta     PSM (Makassar)              2-1 PSMS (Medan)     [aet]
1992/93 not held
1993/94 Jakarta     Persib (Bandung)            2-0 PSM (Makassar)         
1995-     not held since introduction professional league

Monday, September 21, 2015

Pernah Berdagang Ayam Sepulang Berguru dari Italia
CITA-CITANYA semula bukanlah sebagai penjaga gawang. Tiap berlatih dia selalu menjadi striker. Namun, karena di lini depan banyak saingan, secara perlahan-lahan, beralihlah dirinya ke posisi paling belakang dari sebuah tim.
Inilah yang dialami Ari Supriyarso, kiper kelahiran Solo 7 September 1978. ''Semula saya main jadi penyerang, tetapi karena kalah bersaing dan suka jatuh bangun, lalu beralih menjadi kiper,'' katanya saat ditemui di tempat tinggalnya, di Kampung Nayu Timur, belahan utara Kota Solo, Jumat lalu.
Pada musim kompetisi lalu, mantan personel PSSI Primavera ini bergabung dengan Persipur Purwodadi di Kompetisi Divisi I PSSI. Dia telah lebih dari semusim bermain di kesebelasan milik warga Kabupaten Grobogan itu. Dengan demikian mantan pemain PSIS Semarang ini ikut mengantarkan Persipur promosi ke Divisi I.
Bakat menjadi penjaga gawang mulai nampak ketika dirinya masuk Diklat Arseto Solo. Oleh pelatihTjipto, dia dinasihati untuk terjun sebagai kiper.
Diklat Arseto yang saat itu diperkuat Indriyanto Nugroho salah satu andalan PSIS sekarang, pada 1991 membawa Diklat Arseto mewakili Jateng mengikuti Piala Haornas. Mereka keluar sebagai runner-up, setelah dalam final di Senayan, Jakarta, dikalahkan oleh Sumatera Utara.
Kecermatan serta ketangkasannya ketika berdiri di bawah mistar, telah menarik perhatian PSSI. Ketika tahun 1994 PSSI mencanangkan proyek Primavera, dia pun terpilih.
Bersama antara lain Kurnia Sandy, Indriyanto Nugroho, Bima Sakti, dan Kurniawan Dwi Yulianto, mereka menimba ilmu sekaligus mengikuti Kompetisi Primavera di Italia dengan status sebagai kesebelasan tamu.
''Banyak pengalaman menarik di Italia, khususnya mengenai porsi latihan. Saat latihan harus disiplin dan konsentrasi penuh,'' kata pengagum Angelo Peruzzi ini.
Pasar Legi
Setelah kembali dari Italia, dia bergabung dengan Arseto Solo. Tak lama kemudian negeri ini mengalami reformasi yang dibumbui kerusuhan. Kompetisi Liga Indonesia pun sempat terhenti.
Dia pun sempat meninggalkan sepak bola. Kesibukannya diisi dengan membantu ibunya berdagang ayam di Pasar Legi, Solo.
Pada 2001 dia dilirik PSIS Semarang di bawah pelatih Edy Paryono. Dari Semarang, dia berlabuh di Jepara mulai 2003 untuk memperkuat Persijap. Selama dua tahun terakhir dia masih bermain di Jateng, namun kali ini untuk Persipur.
Anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Hadi Suripno dengan Darini ini terus menjaga kebugaran dalam libur kompetisi profesional, dengan berlatih di klub POP. Dia ikut membawa tim ini menjuarai turnamen Piala Wali Kota Solo, baru-baru ini.
Dalam turnamen itu dia berulang kali berhasil menggagalkan tendangan penalti. Dia mengaku, resepnya adalah mengetahui karakter lawan, konsentrasi penuh dan membaca situasi.
''Bila ini dilakukan, paling tidak sudah bisa menguasai keadaan 50 persen. Sisanya keberuntungan,'' ujarnya.
''Saya banyak belajar dari I Komang Putra. Dia berdiri di bawah mistar dengan konsentrasi penuh,'' kata ayah dari dua anak, Alesia dan Alfira ini.
Suami dari wanita asal Semarang, Indah Melawati, yang dinikahi 2003 itu mengaku bahagia dengan profesi yang ditekuninya sekarang.
Dikemukakannya, sampai saat ini baru Persis Solo yang meminta dia untuk bergabung. Tetapi tawaran ini belum dijawab, karena belum ada pembicaraan mengenai nilai kontrak dan gaji bulanan.'' Saya lebih senang di Solo, karena ada ikatan batin,'' tuturnya.(Bambang Seto-22)





logo SUARA MERDEKA
USAI sudah kompetisi antarklub anggota PSIS Divisi I dan Divisi II 2006. Akhirnya POP berhasil mempertahankan gelar setelah tak pernah kalah selama sepuluh pertandingan. Disusul Tugu Muda yang diasuh duet Sebastian dan Sutarto. Peringkat ketiga diduduki pasukan muda SSS asuhan pelatih yang masih muda pula, Herry Sarwanto.
Dua posisi terbawah Divisi I ditempati Union dan Tunas Sakti. Tunas Sakti yang mundur di awal kompetisi, harus terdegradasi. Dua kesebelasan teratas di Divisi II yang berhak promosi adalah Leo Siasat Cepat, dan tim asuhan Sukijo, PS HW. Sekijo juga pelatih muda. Dia pernah menjadi kiper PSIS pada 1990-an. Urutan ketiga ditempati TCS asuhan Mustaqim.
Sejak pelantikan pengurus PSIS periode 2005-2009 pada 15 Maret 2006, inilah kerja besar Bidang Kompetisi dan Pertandingan di 2006. Banyak pihak yang berharap, langkah tersebut menjadi titik awal kebangkitan pembinaan sepak bola Semarang.
Tim pemandu bakat yang dikomandani Cornelis Soetadi, telah memilih pemain-pemain potensial. Mereka harus diberi perhatian khusus untuk dibina.
Pelatih
Para pemain itu, bilamana perlu diseleksi lagi. Hasilnya bisa dikelompokkan ke tim yang dibutuhkan. Minimal akan ada tiga kesebelasan yang perlu dibina, yaitu eks PSIS Yunior, PSIS U-23 dan PSIS-B (PSIS Amatir).
Dari tim-tim itu, nantinya ada pemain yang akan diberikan kepada PSIS Utama, baik sebagai pemain jadi ataupun pemain magang. Supaya organisasi PSIS bisa jalan, ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi lewat Bidang Kepelatihan harus bisa menyeleksi dan memberikan pelatih yang layak melatih tiga tim tersebut.
M Dhofir yang telah tiga kali berturut-turut membawa POP sebagai juara Divisi I, sudah selayaknya diberi kesempatan untuk melatih salah satu tim tersebut. Nono Suwarno yang bisa mengantarkan Leo Siasat Cepat menjadi juara Divisi II pun bisa dipertimbangkan untuk turut melatih disalah satu tim. Untuk M. Dhofir dan Nono Suwarno, karena prestasinya bisa membawa timnya juara, perlu diusahakan bantuan biaya kursus kepelatihan guna mendapatkan sertifikat yang setingkat lebih tinggi.
Selain mereka berdua, masih banyak pelatih-pelatih muda Semarang yang punya potensi bagus. Sekarang tinggal Bidang Kepelatihan yang dipegang Soetadi, atas dasar kesepakatan bersama pelatih-pelatih yang jadi anggota, melakukan kocok ulang untuk menentukan siapa yang layak menangani tim-tim PSIS di wilayah amatir ini.
Dana untuk keperluan pembinaan jangka panjang pasti tidak akan mahal. Lebih mahal mengontrak seorang pemain asing dalam satu putaran kompetisi dibanding mengongkosi beberapa tim binaan dalam waktu satu tahun.Pembinaan yang berjenjang dan tertata baik pasti juga akan menghasilkan pemain-pemain yang baik dan siap pakai.
Kendala Utama
Harus sama-sama dipahami, di waktu yang akan datang, harga pemain yang bermain di Divisi Utama PSSI apalagi di Super Liga pasti meroket. Kalau PSIS tidak mau mulai membina dan memakai pemain binaannya sendiri, untuk menjadi juara hanya sekedar retorika.
Biaya pasti akan jadi kendala utama untuk membeli pemain jadi. Karena itu dana untuk pembinaan mesti disiapkan matang, sesiap merencanakan dana PSIS dalam menjalani Kompetisi Divisi Utama.
Dana untuk kompetisi antarklub anggota yang direncanakan diputar Maret 2007, harus pula dianggarkan serta disediakan lebih awal, seawal persiapan dana untuk PSIS Utama.
Kembali kepada kompetisi antarklub, ada wacana untuk menambah satu divisi lagi, yaitu Divisi III. Banyak pembina-pembina bola di Semarang yang belum punya klub resmi anggota PSIS menanyakan, bagaimana bisa bergabung ke PSIS sebagai anggota resmi.
Di satu sisi, banyak klub anggota divisi II yang tidak maksimal dalam melaksanakan kewajiban berkompetisi. Di sisi lain, banyak tim ingin bergabung. Ini tugas bidang organisasi, bagaimana mengakomodasi semua pihak.
Kalau Divisi III diadakan, tentu akan merangsang gairah berkompetisi. Yang ideal tiap divisi diisi 10 klub. Kalau TEPZ pasti dicoret dari keanggotaan karena sudah dua kali tidak ikut kompetisi, maka lowongan untuk menjadi anggota baru akan diisi oleh 6 klub.
Lebih atau kurang dari 6 klub yang melamar, pihak PSIS pasti akan melakukan cek kelayakan sebagai anggota baru dari banyak aspek.
Untuk memajukan sepak bola Semarang, tidak bisa kalau hanya diurusi, dipikirkan dan dilaksanakan oleh segelintir pengurus saja. Untuk itu, segera adakan rapat pleno pengurus yang belum pernah diselenggarakan. Adakan rapat pleno juga antara pengurus PSIS dengan pengurus klub anggota.
Tahun 2007 kompetisi harus jalan. Begitu juga untuk tahun-tahun berikutnya. Syukur-syukur ada tambahan kompetisi atau turnamen untuk kelompok umur setiap tahunnya. (Iwan Anggoro, pengurus PS Garuda-22)

Sunday, September 20, 2015

SUARA MERDEKA

"Era Semarang" di Timnas PSSI

SULIT disangkal, era keemasan Semarang di tim nasional PSSI dicatat pada 1986-1988. Ketika itu sangat terasa peran para pemain asal PSIS. Budi Wahyono mengawali kiprah sebagai Pemain Terbaik Divisi Utama PSSI 1985-1986 yang mendapat hadiah nonton Piala Dunia Meksiko, namun dia memilih menukar hak eksklusif itu dengan uang.
Pada 1987 tercatat meroketnya nama Ribut Waidi sebagai pencetak gol kemenangan atas Malaysia di final SEA Games Jakarta yang merupakan emas pertama Indonesia dalam multievent Asia Tenggara itu. Catatan lain yang sering terlewat, pada tahun yang sama, Budi dan Ribut juga menjadi penentu sukses di Piala Kemerdekaan. Berikutnya pada 1988, selain Budi dan Ribut, nama-nama Syaiful Amri, Budiawan Hendratno, Eryono Kasiha, dan Ahmad Muhariah juga menjadi penghuni Pelatnas.
Budi sebenarnya sudah mulai merintis nama sejak 1983, ketika bersama-sama Djoko Yogyanto dan Syaiful Amri terpilih dalam skuad PSSI Banteng asuhan Suwardi Arland. Pada 1984, menyusul Rusmanto dan Ribut Waidi yang dipanggil EA Mangindaan dalam tim Merdeka Games. Namun sejak 1988, boleh dibilang Semarang kering dari lirikan pemandu bakat timnas. Masuknya nama-nama seperti Eka Vedhayana, Muchid, Dwi Prio Utomo, Trimur Vedhayanto, Frido Yuwanto, Kurnia Sandy, atau Eko Purjianto dalam tim-tim kelompok umur dan kemudian timnas senior sulit dibilang mewakili kepentingan PSIS, karena mereka terlebih dulu sudah harus berganti baju klub.
Dua kali, pada 1988 dan 1993, Sartono Anwar dipercaya mengarsiteki timnas. Yakni untuk Merdeka Games Kuala Lumpur dengan hasil terbaik sebagai finalis (kalah 0-5 dari Hamburg SV), lalu menjadi asisten Ivan Toplak untuk Pra-Piala Dunia 1994 di Qatar dan Singapura. Selebihnya, baru nama Edy Paryono yang menyusul sebagai nominasi asisten Ivan Venkov Kolev pada 2003.
Gozali dan Paryono
Pekan ini, ketika nama HB Bahreisy Gozali ditetapkan sebagai asisten manajer timnas Pra-Piala Dunia (PPD) dan Piala Asia 2004, orang mungkin sedikit terhenyak. Padahal sebenarnya, secara formal tokoh yang beberapa tahun terakhir berkiprah untuk PSIS ini sudah menjadi anggota manajemen timnas sejak 2003 untuk Pra-Piala Asia di Jeddah. Ketika itu, "era Semarang" mulai menggeliat, karena selain Gozali juga dipanggil Eko Purjianto, Agung Setyabudi, dan I Komang Putra Adnyana. Bahkan, Agung terpilih sebagai kapten tim.
Kini, Eko belum dipastikan bakal dipanggil lagi mengingat cederanya yang belum pulih. Akan tetapi, setidak-tidaknya Semarang akan tetap diwakili oleh Agung dan Komang. Bahkan, kini Edy Paryono ditunjuk mendampingi Kolev bersama Atanas Giorgiev dan Sudarno.
Ketokohan Gozali dan Paryono memang sudah lama "tercium" dan diincar oleh kalangan PSSI. Kedekatan pengusaha biro perjalanan haji dan umrah itu dengan para tokoh kunci PSSI, khususnya Manajer Timnas Andi Darussalam Tabussala tentu memberi andil bagi kiprah besar ini. Andi mengaku menaruh respek dan membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh yang berkemauan untuk dekat dan memahami kondisi psikologis pemain, serta itulah mengapa dia memilih Gozali dan Masfrion dari PSPS Pekanbaru sebagai asisten.
Gozali mulanya menyambut penunjukan itu dengan sedikit keraguan. Dia menghitung, kalau di PSIS saja sekarang dia "tidak terpakai" - berarti secara introspektif merasa dianggap tidak mampu - apakah dia bakal mampu mengemban tugas bangsa di timnas? Namun oleh para sahabatnya, Gozali didorong untuk memenuhi amanat nasional itu, karena diyakini Andi tentu membutuhkan orang-orang terpercaya untuk tugas berat di PPD dan Piala Asia nanti. "Bismillah, saya merasa mantap dengan dorongan para sahabat. Saya juga merasa berterima kasih atas bimbingan Ketua Umum PSIS Sukawi Sutarip selama ini. Saya juga siap belajar dari Pak Andi yang sudah kenyang pengalaman," ungkapnya sebelum bertolak mengikuti rapat PSSI di Jakarta, Kamis lalu.
Bagaimana pula dengan Edy Paryono? Tidak sedikit kalangan sepak bola yang memuji Edy sebagai calon aset timnas yang mempunyai karakter. Dan, PSSI pun tampaknya sudah lama memosisikan dia sebagai "putra mahkota" dalam kepelatihan timnas. Tahun lalu, selama sebulan lebih dia dikirim untuk berguru ke Jerman. Ini pengalaman kedua setelah pada pertengahan 1990-an dia juga menimba ilmu ke Brasil.
"Saya sangat respek kepada Edy Paryono. Selain tekun belajar, dia tidak segan-segan kursus bahasa asing. Bahkan bahasa Brasil pun dia pelajari sebelum berangkat ke sana. Saya rasakan wawasan sepak bolanya semakin meningkat," puji Djoko Yogyanto, kolega Edy yang sekarang berprofesi sebagai notaris.
Bagaimanapun, kepercayaan untuk dua tokoh itu dalam manajemen timnas patut disambut bangga oleh insan sepak bola Semarang. Apalagi, tanda-tanda kebangkitan "era PSSI" untuk sepak bola ibu kota Jawa Tengah ini mulai terasa. M Irfan, kendati gagal mendapatkan tempat dalam skuad SEA Games, sempat mencicipi Pelatnas. Lalu M Ridwan, gelandang PSSI SEAG yang walaupun dipanggil dari klub Pelita Krakatau Steel, tetapi semua tahu dia adalah putra Semarang yang dibesarkan oleh PS SSS. Di tim U-20, PSIS juga menempatkan Yusuf Sutan Mudo, Denny Rumba, Achmad Yaini, dan Eko Prasetyo Ariyanto. Lalu untuk tim U-17, tercatat nama Adityo Denny Laman sebagai pilar.
Bukankah ini bukti awal dimulainya "era Semarang" di timnas?

SUARA MERDEKA

PSIS vs Persebaya, Rivalitas Tiada Akhir

DUA dekade tampaknya tak cukup lama untuk menghapus kenangan. Paling tidak, begitulah nuansa yang tersirat setiap kali dua anggota Divisi Utama Liga Indonesia, PSIS Semarang dan Persebaya Surabaya, akan bertarung. Meski "perseteruan" kedua tim itu terjadi lebih dari 15 tahun silam, gurat-gurat kenangan di kedua kubu tak bisa lekang oleh waktu. Pemain, suporter, dan para ofisial selalu menganggap duel ini sebagai salah satu yang terpen-ting. PSIS begitu, Persebaya juga.
Lima belas tahun silam, tepatnya musim kompetisi 1987/1988, saling jegal antarkedua tim ini memang mencapai puncaknya. Kala itu, PSIS yang tengah berharap lolos ke babak "6 Besar" Divisi Utama di Senayan harus menelan pil pahit setelah Persebaya bermain "sepak bola gajah" dengan mengalah dari Persipura Jayapura.
Skornya tak tanggung-tanggung, 0-12. Padahal semestinya, dengan skor 0-8 pun sudah cukup bagi Persebaya untuk "menyingkirkan" PSIS. Hasil pertandingan di Stadion Gelora 10 November Surabaya yang kontroversial itulah yang kemudian membekas lama di hati para pemain, ofisial, dan suporter Semarang.
Tetapi, benarkah rivalitas antarkedua tim ini hanya bermula dari kasus sepak bola gajah itu? Sebenarnya, tidak juga. Dua musim sebelum Persebaya "mengalah", perseteruan mereka sudah dimulai. Pada musim 1985/1986, PSIS yang tengah memiliki skuad bagus "mengirim" Persebaya ke babak "6 Kecil".
Lewat kemenangan 1-0 di Stadion Diponegoro berkat gol Budiawan Hendratno, PSIS memaksa tim Bajul Ijo bersaing dengan lima tim lain untuk tetap bertahan di Divisi Utama Perserikatan. Padahal, kala itu, andai Laskar Mahesa Jenar "mengalah", maka Persebaya tak perlu repot-repot berebut jatah tiket di kelompok "6 Kecil."
Selamat
Persebaya memang akhirnya selamat. Mereka tetap bertahan di Divisi Utama, dan pada musim berikutnya (1986/1987) anak-anak Surabaya itu bahkan masuk ke final. Lawannya di final? PSIS Semarang. Tragisnya, Persebaya kalah lagi.
Ketika itu, dalam waktu normal, skor sebenarnya 1-1. Persebaya unggul dulu lewat Budi Johanis, sementara PSIS menyamakan kedudukan melalui tendangan bebas Ribut Waidi. Gol Ribut ini sempat diprotes karena dicetak --menurut Persebaya-- sebelum wasit Djaja Mujahidin meniup peluit tanda boleh dilakukannya eksekusi. Tapi Djaja bergeming. Gol itu tetap dinyatakannya sah, dan protes Persebaya tak dikabulkan. Di babak perpanjangan waktu, Syaiful Amri mengubur mimpi balas dendam Persebaya.
Itu barangkali yang menjadi salah satu sebab, mengapa ketika final Liga Indonesia V tahun 1998/1999 antara PSIS versus Persebaya, polisi dan tentara tumplek-blek di Stadion Senayan. Iklim panas sudah dibuka sebelum pertandingan digelar.
Tiga belas pendukung PSIS menjadi tumbal. Mereka tewas dalam kerusuhan di dekat rel listrik, sebagian besar karena kesetrum. Suporter Persebaya juga banyak yang luka. Karena rusuh dan situasinya amat mencekam, final lantas dialihkan ke Stadion Klabat Manado.
Dan di final, Tugiyo --striker PSIS yang dijuluki Maradona dari Purwodadi-- mengubur lagi mimpi Persebaya. Gol tunggalnya dua menit sebelum pertandingan usai makin membuat sengit rivalitas kedua tim. (Gunarso-77)
Statistik Persebaya
Final divisi utama perserikatan:
1938, 1941, 1942, 1950, 1951, 1952, 1965, 1967, 1971, 1973, 1977, 1981, 1986/1987, 1988, 1990
Juara perserikatan: 1941, 1950, 1951, 1952, 1988
Final Liga Indonesia:
1996/1997 : Persebaya 3 vs Bandung Raya 1
1998/1999 : Persebaya 0 vs PSIS 1
Juara LI:
1996/1997 : Persebaya 3 - Bandung Raya 1
Statistik PSIS
Final divisi utama perserikatan: 1986/1997
Juara perserikatan: 1986/1987
Final Liga Indonesia:
1998/1999: PSIS 1 - Persebaya 0
Juara Liga Indonesia:
1998/1999 : PSIS 1 - Persebaya 0

Thursday, September 17, 2015

Kiprah PSIS di Liga Indonesia

Liga Indonesia I (Liga Dunhill) 1994-1995

PSIS berhasil mencapai peringkat 13 dari 17 tim Wilayah Timur.
PSIS yang walaupun sempat membuat sedikit kejutan seperti saat mengalahkan Persebaya 8-0 di Stadion Gelora 10 November Surabaya, tapi tetap saja prestasinya di papan tengah yang cenderung ke bawah. Ditambah lagi dengan sangat minimnya penonton yang tiba-tiba menurun drastis karena "kuningisasi" yang dilakukan gubernur Jawa Tengah saat itu dan di saat bersamaan prestasi saudara mudanya, BPD Jateng juga meningkat, jadilah PSIS sebagai tim yang ngenes. Juara Liga Tahun ini adalah Persib Bandung yang secara kontroversial mengalahkan Petrokimia Putra dengan skor tipis 1-0.
  • Total pertandingan: 32 (10 kali menang, 9 kali seri, 13 kali kalah)
  • Selisih gol: 28 gol memasukkan-43 gol kemasukan

Liga Indonesia II (Liga Dunhill) 1995-1996

Berhasil mencapai peringkat 10 dari 16 tim Wilayah Timur.
Prestasi PSIS masih stagnan di papan tengah, hanya saja dari segi penonton sudah mulai ada peningkatan. Hal ini disebabkan karena mulai masuknya pemain impor yang menarik penonton untuk menyaksikan aksinya serta seragam yang kembali ke warna kebesaran, biru. Ditambah lagi dengan campur tangan kekuasaan Gubernur Jateng saat itu yang membuat tim BPD Jateng hanya boleh diisi oleh pemain PON yang miskin pengalaman dan bahkan saat pelatih mencoba untuk menurunkan pemain non-PON, dia pun dipecat dari pekerjaannya, padahal hasilnya adalah kemenangan. Juara Liga adalah Bandung Raya yang (juga) secara kontroversial mengalahkan PSM Makassar 2-0.
  • Total pertandingan: 30 (10 kali menang, 7 kali seri, 13 kali kalah)
  • Selisih gol: 37 gol memasukkan-41 gol kemasukan

Liga Indonesia III (Liga Kansas) tahun 1996

Ada sedikit peningkatan prestasi PSIS dengan hampir menembus babak 12 besar. Gairah sepak bola Semarang pun seolah bangkit dari tidurnya. Dukungan dari pemerintah mengalir dan penonton pun semakin membanjir. Stadion Jatidiri (kapasitas 25.000) yang di LI I hanya mencatat rata-rata penonton 500 orang dan di LI II dengan rata-rata penonton 15.000 orang, kali ini selalu penuh (25.000 orang). Juara Liga adalah Persebaya yang mengalahkan Bandung Raya 3-1.

Liga Indonesia IV 1997-1998

Berhasil mencapai peringkat 6 dari 11 tim Wilayah Tengah (sebelum dihentikan).
Imbas dari prestasi yang meningkat membuat PSIS mulai bergairah dan diperhitungkan di kancah sepak bola nasional. Sayang sekali saat itu liga harus dihetikan karena krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia.
  • Total pertandingan: 16 (4 kali menang, 8 kali seri, 4 kali kalah)
  • Selisih gol: 17 gol memasukkan-24 gol kemasukan

Liga Indonesia V 1998-1999

Puncak prestasi dari PSIS. Dilatih oleh Edi Paryono, setelah mencapai peringkat 2 dari 5 tim Grup D dan kemudian runner-up Grup F (10 Besar), PSIS akhirnya menggondol gelar juara setelah di final yang menjadi "partai usiran" karena harus terbang ke Manado dengan semangat balas budi atas meninggalnya 11 orang suporter PSIS di Manggarai, PSIS bermain kesetanan dan mengalahkan Persebaya dengan skor tipis 1-0 melalui gol Tugiyo di injury time babak kedua. Sayang sekali prestasi ini sepertinya kurang bernilai karena liga saat itu dibagi oleh banyak grup (3 wilayah 5 grup). PSIS berhak mewakili Indonesia ke Piala Champions Asia dan sayangnya langsung tunduk dari Suwon Samsung Bluewings dengan skor 3-2 di kandang dan 6-2 saat tandang.
  • Total pertandingan: 14 (7 kali menang, 3 kali seri, 4 kali kalah)
  • Selisih gol: 18 gol memasukkan-13 gol kemasukan

Liga Indonesia VI 1999-2000

Turun ke peringkat 13 dari 14 tim Wilayah Timur.
Terlena dengan gelar yang sudah diraih, memasuki Liga Indonesia VI tahun 1999, PSIS terlambat menyiapkan tim dan dukungan dana tiba-tiba macet. Kerusuhan di partai pembukaan saat PSIS takluk dari Barito Putra 2-0 seakan menjadi tanda-tanda yang tidak baik. Dan ternyata semua itu terbukti, kenyataan pahit itupun harus diambil. PSIS degradasi ke Divisi I, sekaligus mencatatkan diri sebagai tim pertama di Indonesia yang terdegradasi setelah menjuarai kompetisi sebelumnya.
  • Total pertandingan: 26 (6 kali menang, 6 kali seri, 14 kali kalah)
  • Selisih gol: 22 gol memasukkan-32 gol kemasukan

Liga Indonesia VII 2000-2001

PSIS bermain di Divisi I. Tersentak oleh kenyataan pahit tersebut, manajemen tim pun bertindak. PSIS harus kembali ke Divisi Utama, begitu tekad mereka. Dan ternyata tekad itu terwujud, PSIS menjadi juara Kompetisi Divisi I tahun 2000 sekaligus kembali promosi ke Divisi Utama. Tahun ini ditandai pula dengan berdirinya komunitas suporter PSIS bernama Panser Biru. Serta merta melalui kerja keras PSIS bangkit dan melalui konsistensi permainannya gelar juara Divisi I tahun 2001 pun berhasil diraih. PSIS Semarang kembali ke Divisi Utama.
  • Total pertandingan: 16 (12 kali menang, 2 kali seri, 2 kali kalah)
  • Selisih gol: 24 gol memasukkan-9 gol kemasukan

Liga Indonesia VIII Bank Mandiri 2002

Meraih peringkat 8 dari 12 tim Wilayah Timur PSIS tetap menempati posisi papan tengah seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang spesial, semuanya datar-datar saja. Liga Indonesia VIII tahun 2002 (Liga Bank Mandiri), PSIS masih belum beranjak dari papan tengah dan bahkan nyaris degradasi. Untung saja 2 kemenangan kandang terakhir menyelamatkan PSIS dari jurang degradasi. Juara tahun ini adalah Petrokimia Putra yang pada final mengalahkan Persita Tangerang 2-1 melalui perpanjangan waktu.
  • Total pertandingan: 22 (8 kali menang, 6 kali seri, 8 kali kalah)
  • Selisih gol: 20 gol memasukkan-25 gol kemasukan

Liga Indonesia IX Bank Mandiri 2003

Mencapai peringkat 13 dari 20 tim. Sejak Liga Indonesia tahun kompetisi 2003 PSIS mempercayakan jabatan manajer tim kepada Yoyok Sukawi. Di bawah kepemimpinannya, PSIS mengalami beberapa perubahan yang signifikan, antara lain dengan mengontrak pelatih Daniel Roekito, dan mengganti beberapa pemain, dengan tujuan agar mampu mencapai hasil maksimal di kancah Liga Indonesia 2003.
Bersamaan dengan diadakannya Piala Emas Bang Yos (PEBY) I di Jakarta, PSIS memanfaatkan ajang ini untuk menyeleksi dan mematangkan skuat pemain yang ada untuk menghadapi Liga Indonesia tahun berikutnya.
Tahun 2003, menjadi tonggak sejarah di mana semua peserta saling bertemu karena sistem turnamen yang tidak membagi wilayah lagi. Alih-alih berprestasi, PSIS masih belum mampu beranjak dari papan tengah ke bawah. Juara Liga tahun ini adalah Persik Kediri yang fenomenal karena pada tahun sebelumnya berada di Divisi I. Liga Indonesia X (Liga Bank Mandiri) tahun 2004, masih dengan format satu wilayah. prestasi PSIS mulai menanjak naik walaupun belum bisa meraih gelar juara yang pada tahun ini diraih oleh Persebaya. Liga Indonesia XII ( Liga Djarum Indonesia tahun 2005), prestasi PSIS semakin membaik. Di tangan pelatih Bambang Nurdiansyah, PSIS berhasil meraih posisi ketiga. Sebenarnya hasil yang dicapai bisa lebih baik kalau saja di partai 8 besar wasit bisa lebih netral saat PSIS jumpa dengan tuan rumah Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya melakukan hal yang mencoreng sepak bola nasional dan menghilangkan kesempatan juara PSIS dengan mogok main. Pada tahun ini ada sesuatu yang baru di mana Piala Indonesia (Copa Dji Sam Soe) untuk pertama kali dimainkan. Sayangnya PSIS hanya sampai babak 16 besar karena terhenti langkahnya oleh Persijap Jepara.
  • Total pertandingan: 38 (14 kali menang, 8 kali seri, 16 kali kalah)
  • Selisih gol: 43 gol memasukkan-45 gol kemasukan

Liga Indonesia X 2004

Mencapai peringkat 10 dari 18 tim. Pada Liga Indonesia tahun 2004, dengan suntikan tenaga pemain baru, baik lokal maupun asing, ditambah polesan tangan pelatih Cornelis Sutadi dan asisten pelatih Bonggo Pribadi, PSIS mengarungi kerasnya persaingan di Liga Indonesia 2004. Di pertengahan tahun kompetisi 2004, manajemen PSIS menilai perlu dilakukan perombakan tim. Jabatan Pelatih Kepala diserahkan kepada Herry Kiswanto. Beberapa pemain baru pun dikontrak untuk menambah kekuatan tim.
Pada turnamen PEBY II, PSIS kembali diundang, dan menjadikan ajang ini sebagai tahapan pemantapan komposisi pemain untuk menghadapi Liga Indonesia tahun 2005.
  • Total pertandingan: 34 (12 kali menang, 10 kali seri, 12 kali kalah)
  • Selisih gol: 35 gol memasukkan-34 gol kemasukan

Liga Indonesia 2005

Peringkat 3 dari 14 tim Wilayah 1, Runner Up Grup Barat (8 Besar), juara 3.
Liga Indonesia 2005 kembali dibagi menjadi 2 wilayah. PSIS termasuk di Wilayah I atau Barat. Masih dikomandani oleh Yoyok Sukawi sebagai Manajer Tim, Bambang Nurdiansyah (Pelatih Kepala), PSIS memiliki optimisme tinggi menyambut Liga Indonesia 2005. PSIS berhasil melaju ke putaran 8 Besar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Meski dirugikan oleh kejadian mundurnya Persebaya dari putaran ini, PSIS sukses mencapai peringkat 3 untuk Liga Indonesia tahun 2005.
  • Total pertandingan: 30 (13 kali menang, 12 kali seri, 5 kali kalah)
  • Selisih gol: 41 gol memasukkan-23 gol kemasukan

Liga Indonesia 2006

Peringkat 3 dari 14 tim Wilayah 1, runner-up Grup A (8 Besar), runner-up kompetisi.

M. Ridwan
Di akhir tahun 2005, PSIS mengontrak pelatih Sutan Harhara untuk turut berpastisipasi di turnamen PEBY III dan juga untuk Liga Indonesia 2006 yang akan datang. Sebelum mengikuti PEBY III, PSIS diundang PSSI U-23, yang dipersiapkan untuk mengikuti SEA Games Manila, sebagai lawan latih tanding yang berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
PEBY III menjadi ajang pembuktian keseriusan PSIS dalam persiapan menjelang Liga Indonesia 2006. PSIS kembali ke Semarang dengan keberhasilan menduduki posisi 3. Menghadapi Liga Indonesia 2006, PSIS terus melakukan persiapan dengan beberapa kali melakukan uji coba di Semarang, serta mengontrak pemain-pemain handal yang dibutuhkan tim untuk mencapai hasil maksimal.
Di pertengahan musim, PSIS mengganti pelatih Sutan Harhara dengan asistennya Bonggo Pribadi. PSIS melaju sampai ke partai puncak dan kalah dalam drama perpanjangan babak melawan Persik Kediri melalui gol Cristian Gonzalez.
  • Total pertandingan: 31 (16 kali menang, 5 kali seri, 10 kali kalah)
  • Selisih gol: 37 gol memasukkan-31 gol kemasukan

Liga Indonesia 2007

Prestasinya menurun dibanding 2 musim sebelumnya. Menghadapi Divisi Utama Liga Indonesia 2007 yang terdiri dari 36 tim untuk memperebutkan 18 tim yang berhak bermain di Liga Super Indonesia PSIS hanya menduduki peringkat 10 wilayah barat dengan mengumpulkan 13 menang, 10 seri , dan 11 kalah. Sedangkan klub yang berhak masuk Liga Super Indonesia adalah peringkat 9 dan sejatinya tidak berhak menikmati ketatnya persaingan LSI 2008.

Liga Indonesia 2008

Bersama PKT Bontang, Laskar Mahesa Jenar beruntung mengikuti Liga Super Indonesia 2008–09 menggantikan Persmin Minahasa dan Persiter Ternate yang tidak memenuhi 5 aspek BLI. Tanpa adanya dukungan dana APBD Pemkot Semarang dan ditinggal oleh bintang - bintangnya seperti M. Ridwan dan Khusnul Yakin yang hengkang ke Pelita Jaya, Emanuel De Porras yang memilih liga italia, dan imral usman, PSIS Semarang hanya mengandalkan para pemain muda. Akhirnya dengan sangat memalukan, PSIS menjadi juru kunci dengan menelan 21 kekalahan, 9 kali seri dan hanya sanggup menang 4 kali, dengan rekor kebobolan 62 gol.

Liga Indonesia 2009-2010

Tidak banyak yang dilakukan oleh Tim kebanggaan kota Lumpia ini selain hanya menduduki peringkat 6 grup 2 dan tidak berhak lolos ke babak 8 besar Divisi Utama Liga Indonesia 2009–10

Liga Indonesia 2010-2011

Prestasi Tim kebanggaan kota Lumpia ini semakin terpuruk saja dengan hanya hanya menduduki peringkat 8 grup 2 (dari 13 tim) dan tentu saja kembali tidak berhak lolos ke babak 8 besar Divisi Utama Liga Indonesia 2010–11

Liga Indonesia 2011-2012

Di tengah kisruhnya sepak bola Indonesia, PSIS Semarang memilih bernaung di Divisi Utama Liga Indonesia 2011–12 (LPIS) dibawah bendera PT Liga Prima Indonesia Sportindo. finish di peringkat 5 grup2 dibawah tim - tim jawa tengah lainya seperti PSIR Rembang yang finish di peringkat 2 grup 2 dan PSCS Cilacap di peringkat 4 grup 2.

Liga Indonesia 2013

PSIS Semarang hijrah ke Divisi Utama Liga Indonesia 2013 yang dikelola PT. Liga Indonesia (LI). Kali ini ia menujukan prestasi yang lebih baik. Menghuni peringkat 3 grup 2, tim ini berhasil lolos ke babak ke dua. akan tetapi, cideranya Ronald Fagundez dan Addison Alves dibabak kedua yang tidak diimbangi kematangan para pemain muda, membuat Mahesa jenar hanya menjadi juru kunci , kalah dengan sang juara, Persebaya Surabaya, PSBS Biak Numfor, dan PS Bangka.
Di musim ini diwarnai Peristiwa Godong yang terjadi di Kabupaten Grobogan. Ketika melawan Persipur Purwodadi fans - fans PSIS dinilai meresahkan warga masyarakat kecamatan godong dengan melakukan penjarahan. Seusai pertandingan, fans - fans PSIS Semarang dicegat oleh warga setempat sehingga tidak dapat kembali ke Semarang selama belasan jam. Baru setelah pihak yang berwajib turun tangan para fans yang tertahan bisa dievakuasi. Peristiwa lain adalah dipecatnya imral usman dan Morris Power dari tim setelah terjadi mangkir karena keterlambatan pembayaran gaji.

Liga Indonesia 2014

PSIS Semarang yang diperkuat dua pemain asing Julio Alcorsé dan Ronald Fagundez memulai Divisi Utama Liga Indonesia 2014 dengan luar biasa, memuncaki klasemen Grup 4, dengan hanya menantongi 1 kekalahan, hingga akhirnya lolos ke 8 besar. Di 8 Besar PSIS Semarang bermain luar biasa hingga belum selesai 8 besar pun, Tim asal kota Semarang ini sudah dipastikan melaju ke semifinal bersama PSS Sleman, termasuk kemenangan telak melawan Persiwa Wamena. juru gedor, Hari Nur Yulianto menjadi Pencetak gol Terbanyak ke-4 dengan 14 gol di bawah Abblode Yao Rudy (Persiwa Wamena,17 gol), Brima Pepito Sanusie (Martapura FC, 16 gol), dan Fernando Gaston Soler (Pusamania Borneo F.C.,15 gol), sedangkan striker Mahesa Jenar lainnya Julio Alcorsé di peringkat 7 dengan 13 gol.

Sepak Bola Gajah

Langkah yang susah payah dibangun sejak awal musim harus berakhir tragis di pertandingan akhir yang hanya memperebutkan posisi juara grup dan runner up dengan PSS Sleman. Elang Jawa dan PSIS Semarang terlibat sepakbola gajah dimana kedua klub sama - sama menginginkan kekalahan agar tidak bertemu dengan Pusamania Borneo F.C.. hingga terjadi peristiwa 5 gol bunuh diri dalam 7menit, dan akhirnya pertandingan berakhir dengan score 2-3 untuk kemenangan PSS Sleman. Manajemen berdalih melakukan hal tersebut karena menghindari mafia persepakbolaan Indonesia, mereka menilai Pusamania Borneo F.C. sudah diset untuk menjuarai Divisi Utama sehingga mereka hindari [1]. [2].. Namun apapun alasannya, sepak bola gajah tidak akan bisa diterima! terlebih hanya spekulasi saja. Akibat dari Skandal ini, Laskar Mahesa Djenar didiskualifikasi dari babak 8Besar. Sedangkan pelatih Eko Riyadi, Saptono, Fadli Manan dan Catur Adi Nugraha mendapat hukuman seumur hidup tak boleh bermain di sepakbola Indonesia dan denda masing - masing 100 juta Rupiah.

Daftar pemain

Berikut merupakan skuat PSIS Semarang untuk musim kompetisi 2015 Pelatih: Bendera Indonesia M.Dhofir
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional pemain sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat saja mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan.
No.
Pos. Nama
- Bendera Indonesia GK Ega Rizky
25 Bendera Indonesia GK Fajar Setya Jaya
 ? Bendera Indonesia GK Syaiful Amar
5 Bendera Indonesia DF Welly Siagian
- Bendera Indonesia DF Yudha Pramana
- Bendera Indonesia DF Anhar Latif Prayogo
- Bendera Indonesia DF Andrianto Ariza
13 Bendera Indonesia DF Fauzan Fajri
 ? Bendera Indonesia DF Taufik Hidayat
 ? Bendera Indonesia DF Yogi Ardianto
27 Bendera Indonesia DF Safrudin Tahar
 ? Bendera Indonesia DF Mochamad Arifin
 ? Bendera Indonesia DF M Tegar Pribadi

No.
Pos. Nama
7 Bendera Indonesia MF Muhamad Yunus
11 Bendera Indonesia MF Indra Setiawan
14 Bendera Indonesia MF Rizky Yulian
15 Bendera Indonesia MF Ediyanto
24 Bendera Indonesia MF Ahmad Agung
87 Bendera Indonesia MF Bakori Andreas
 ? Bendera Indonesia MF Ahmad Ilyas
- Bendera Indonesia MF Elmirio Andrestani
 ? Bendera Indonesia MF Dani Raharjanto
22 Bendera Indonesia FW Hari Nur Yulianto
 ? Bendera Indonesia FW Noor Hadi

Staff Kepelatihan

Posisi Staf
Pelatih Kepala Bendera Indonesia M.Dhofir
Assisten Pelatih Bendera Indonesia Dwi Setyawan
Pelatih Kiper Bendera Indonesia Achmad Heldi
Pelatih Fitnes Bendera Indonesia Sumardi Widodo
Manager tim Bendera Indonesia Adi Saputro
Sumber: suaramerdeka.com

Transfer Pemain 2015

Player In
Player Out

Pencetak Gol

Terbanyak per Musim

Pemain Legenda