Monday, September 21, 2015
Pernah Berdagang Ayam Sepulang Berguru dari Italia
CITA-CITANYA semula bukanlah sebagai penjaga gawang. Tiap berlatih
dia selalu menjadi striker. Namun, karena di lini depan banyak saingan,
secara perlahan-lahan, beralihlah dirinya ke posisi paling belakang dari
sebuah tim.
Inilah yang dialami Ari Supriyarso, kiper kelahiran Solo 7 September
1978. ''Semula saya main jadi penyerang, tetapi karena kalah bersaing dan
suka jatuh bangun, lalu beralih menjadi kiper,'' katanya saat ditemui di
tempat tinggalnya, di Kampung Nayu Timur, belahan utara Kota Solo, Jumat
lalu.Pada musim kompetisi lalu, mantan personel PSSI Primavera ini bergabung dengan Persipur Purwodadi di Kompetisi Divisi I PSSI. Dia telah lebih dari semusim bermain di kesebelasan milik warga Kabupaten Grobogan itu. Dengan demikian mantan pemain PSIS Semarang ini ikut mengantarkan Persipur promosi ke Divisi I.
Bakat menjadi penjaga gawang mulai nampak ketika dirinya masuk Diklat Arseto Solo. Oleh pelatihTjipto, dia dinasihati untuk terjun sebagai kiper.
Diklat Arseto yang saat itu diperkuat Indriyanto Nugroho salah satu andalan PSIS sekarang, pada 1991 membawa Diklat Arseto mewakili Jateng mengikuti Piala Haornas. Mereka keluar sebagai runner-up, setelah dalam final di Senayan, Jakarta, dikalahkan oleh Sumatera Utara.
Kecermatan serta ketangkasannya ketika berdiri di bawah mistar, telah menarik perhatian PSSI. Ketika tahun 1994 PSSI mencanangkan proyek Primavera, dia pun terpilih.
Bersama antara lain Kurnia Sandy, Indriyanto Nugroho, Bima Sakti, dan Kurniawan Dwi Yulianto, mereka menimba ilmu sekaligus mengikuti Kompetisi Primavera di Italia dengan status sebagai kesebelasan tamu.
''Banyak pengalaman menarik di Italia, khususnya mengenai porsi latihan. Saat latihan harus disiplin dan konsentrasi penuh,'' kata pengagum Angelo Peruzzi ini.
Pasar Legi
Setelah kembali dari Italia, dia bergabung dengan Arseto Solo. Tak lama kemudian negeri ini mengalami reformasi yang dibumbui kerusuhan. Kompetisi Liga Indonesia pun sempat terhenti.
Dia pun sempat meninggalkan sepak bola. Kesibukannya diisi dengan membantu ibunya berdagang ayam di Pasar Legi, Solo.
Pada 2001 dia dilirik PSIS Semarang di bawah pelatih Edy Paryono. Dari Semarang, dia berlabuh di Jepara mulai 2003 untuk memperkuat Persijap. Selama dua tahun terakhir dia masih bermain di Jateng, namun kali ini untuk Persipur.
Anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Hadi Suripno dengan Darini ini terus menjaga kebugaran dalam libur kompetisi profesional, dengan berlatih di klub POP. Dia ikut membawa tim ini menjuarai turnamen Piala Wali Kota Solo, baru-baru ini.
Dalam turnamen itu dia berulang kali berhasil menggagalkan tendangan penalti. Dia mengaku, resepnya adalah mengetahui karakter lawan, konsentrasi penuh dan membaca situasi.
''Bila ini dilakukan, paling tidak sudah bisa menguasai keadaan 50 persen. Sisanya keberuntungan,'' ujarnya.
''Saya banyak belajar dari I Komang Putra. Dia berdiri di bawah mistar dengan konsentrasi penuh,'' kata ayah dari dua anak, Alesia dan Alfira ini.
Suami dari wanita asal Semarang, Indah Melawati, yang dinikahi 2003 itu mengaku bahagia dengan profesi yang ditekuninya sekarang.
Dikemukakannya, sampai saat ini baru Persis Solo yang meminta dia untuk bergabung. Tetapi tawaran ini belum dijawab, karena belum ada pembicaraan mengenai nilai kontrak dan gaji bulanan.'' Saya lebih senang di Solo, karena ada ikatan batin,'' tuturnya.(Bambang Seto-22)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment