Monday, September 21, 2015




logo SUARA MERDEKA
USAI sudah kompetisi antarklub anggota PSIS Divisi I dan Divisi II 2006. Akhirnya POP berhasil mempertahankan gelar setelah tak pernah kalah selama sepuluh pertandingan. Disusul Tugu Muda yang diasuh duet Sebastian dan Sutarto. Peringkat ketiga diduduki pasukan muda SSS asuhan pelatih yang masih muda pula, Herry Sarwanto.
Dua posisi terbawah Divisi I ditempati Union dan Tunas Sakti. Tunas Sakti yang mundur di awal kompetisi, harus terdegradasi. Dua kesebelasan teratas di Divisi II yang berhak promosi adalah Leo Siasat Cepat, dan tim asuhan Sukijo, PS HW. Sekijo juga pelatih muda. Dia pernah menjadi kiper PSIS pada 1990-an. Urutan ketiga ditempati TCS asuhan Mustaqim.
Sejak pelantikan pengurus PSIS periode 2005-2009 pada 15 Maret 2006, inilah kerja besar Bidang Kompetisi dan Pertandingan di 2006. Banyak pihak yang berharap, langkah tersebut menjadi titik awal kebangkitan pembinaan sepak bola Semarang.
Tim pemandu bakat yang dikomandani Cornelis Soetadi, telah memilih pemain-pemain potensial. Mereka harus diberi perhatian khusus untuk dibina.
Pelatih
Para pemain itu, bilamana perlu diseleksi lagi. Hasilnya bisa dikelompokkan ke tim yang dibutuhkan. Minimal akan ada tiga kesebelasan yang perlu dibina, yaitu eks PSIS Yunior, PSIS U-23 dan PSIS-B (PSIS Amatir).
Dari tim-tim itu, nantinya ada pemain yang akan diberikan kepada PSIS Utama, baik sebagai pemain jadi ataupun pemain magang. Supaya organisasi PSIS bisa jalan, ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi lewat Bidang Kepelatihan harus bisa menyeleksi dan memberikan pelatih yang layak melatih tiga tim tersebut.
M Dhofir yang telah tiga kali berturut-turut membawa POP sebagai juara Divisi I, sudah selayaknya diberi kesempatan untuk melatih salah satu tim tersebut. Nono Suwarno yang bisa mengantarkan Leo Siasat Cepat menjadi juara Divisi II pun bisa dipertimbangkan untuk turut melatih disalah satu tim. Untuk M. Dhofir dan Nono Suwarno, karena prestasinya bisa membawa timnya juara, perlu diusahakan bantuan biaya kursus kepelatihan guna mendapatkan sertifikat yang setingkat lebih tinggi.
Selain mereka berdua, masih banyak pelatih-pelatih muda Semarang yang punya potensi bagus. Sekarang tinggal Bidang Kepelatihan yang dipegang Soetadi, atas dasar kesepakatan bersama pelatih-pelatih yang jadi anggota, melakukan kocok ulang untuk menentukan siapa yang layak menangani tim-tim PSIS di wilayah amatir ini.
Dana untuk keperluan pembinaan jangka panjang pasti tidak akan mahal. Lebih mahal mengontrak seorang pemain asing dalam satu putaran kompetisi dibanding mengongkosi beberapa tim binaan dalam waktu satu tahun.Pembinaan yang berjenjang dan tertata baik pasti juga akan menghasilkan pemain-pemain yang baik dan siap pakai.
Kendala Utama
Harus sama-sama dipahami, di waktu yang akan datang, harga pemain yang bermain di Divisi Utama PSSI apalagi di Super Liga pasti meroket. Kalau PSIS tidak mau mulai membina dan memakai pemain binaannya sendiri, untuk menjadi juara hanya sekedar retorika.
Biaya pasti akan jadi kendala utama untuk membeli pemain jadi. Karena itu dana untuk pembinaan mesti disiapkan matang, sesiap merencanakan dana PSIS dalam menjalani Kompetisi Divisi Utama.
Dana untuk kompetisi antarklub anggota yang direncanakan diputar Maret 2007, harus pula dianggarkan serta disediakan lebih awal, seawal persiapan dana untuk PSIS Utama.
Kembali kepada kompetisi antarklub, ada wacana untuk menambah satu divisi lagi, yaitu Divisi III. Banyak pembina-pembina bola di Semarang yang belum punya klub resmi anggota PSIS menanyakan, bagaimana bisa bergabung ke PSIS sebagai anggota resmi.
Di satu sisi, banyak klub anggota divisi II yang tidak maksimal dalam melaksanakan kewajiban berkompetisi. Di sisi lain, banyak tim ingin bergabung. Ini tugas bidang organisasi, bagaimana mengakomodasi semua pihak.
Kalau Divisi III diadakan, tentu akan merangsang gairah berkompetisi. Yang ideal tiap divisi diisi 10 klub. Kalau TEPZ pasti dicoret dari keanggotaan karena sudah dua kali tidak ikut kompetisi, maka lowongan untuk menjadi anggota baru akan diisi oleh 6 klub.
Lebih atau kurang dari 6 klub yang melamar, pihak PSIS pasti akan melakukan cek kelayakan sebagai anggota baru dari banyak aspek.
Untuk memajukan sepak bola Semarang, tidak bisa kalau hanya diurusi, dipikirkan dan dilaksanakan oleh segelintir pengurus saja. Untuk itu, segera adakan rapat pleno pengurus yang belum pernah diselenggarakan. Adakan rapat pleno juga antara pengurus PSIS dengan pengurus klub anggota.
Tahun 2007 kompetisi harus jalan. Begitu juga untuk tahun-tahun berikutnya. Syukur-syukur ada tambahan kompetisi atau turnamen untuk kelompok umur setiap tahunnya. (Iwan Anggoro, pengurus PS Garuda-22)

No comments:

Post a Comment