SUARA MERDEKA
"Era Semarang" di Timnas PSSI
SULIT disangkal, era keemasan Semarang di tim nasional PSSI dicatat pada 1986-1988. Ketika itu sangat terasa peran para pemain asal PSIS. Budi Wahyono mengawali kiprah sebagai Pemain Terbaik Divisi Utama PSSI 1985-1986 yang mendapat hadiah nonton Piala Dunia Meksiko, namun dia memilih menukar hak eksklusif itu dengan uang.Pada 1987 tercatat meroketnya nama Ribut Waidi sebagai pencetak gol kemenangan atas Malaysia di final SEA Games Jakarta yang merupakan emas pertama Indonesia dalam multievent Asia Tenggara itu. Catatan lain yang sering terlewat, pada tahun yang sama, Budi dan Ribut juga menjadi penentu sukses di Piala Kemerdekaan. Berikutnya pada 1988, selain Budi dan Ribut, nama-nama Syaiful Amri, Budiawan Hendratno, Eryono Kasiha, dan Ahmad Muhariah juga menjadi penghuni Pelatnas.
Budi sebenarnya sudah mulai merintis nama sejak 1983, ketika bersama-sama Djoko Yogyanto dan Syaiful Amri terpilih dalam skuad PSSI Banteng asuhan Suwardi Arland. Pada 1984, menyusul Rusmanto dan Ribut Waidi yang dipanggil EA Mangindaan dalam tim Merdeka Games. Namun sejak 1988, boleh dibilang Semarang kering dari lirikan pemandu bakat timnas. Masuknya nama-nama seperti Eka Vedhayana, Muchid, Dwi Prio Utomo, Trimur Vedhayanto, Frido Yuwanto, Kurnia Sandy, atau Eko Purjianto dalam tim-tim kelompok umur dan kemudian timnas senior sulit dibilang mewakili kepentingan PSIS, karena mereka terlebih dulu sudah harus berganti baju klub.
Dua kali, pada 1988 dan 1993, Sartono Anwar dipercaya mengarsiteki timnas. Yakni untuk Merdeka Games Kuala Lumpur dengan hasil terbaik sebagai finalis (kalah 0-5 dari Hamburg SV), lalu menjadi asisten Ivan Toplak untuk Pra-Piala Dunia 1994 di Qatar dan Singapura. Selebihnya, baru nama Edy Paryono yang menyusul sebagai nominasi asisten Ivan Venkov Kolev pada 2003.
Gozali dan Paryono
Pekan ini, ketika nama HB Bahreisy Gozali ditetapkan sebagai asisten manajer timnas Pra-Piala Dunia (PPD) dan Piala Asia 2004, orang mungkin sedikit terhenyak. Padahal sebenarnya, secara formal tokoh yang beberapa tahun terakhir berkiprah untuk PSIS ini sudah menjadi anggota manajemen timnas sejak 2003 untuk Pra-Piala Asia di Jeddah. Ketika itu, "era Semarang" mulai menggeliat, karena selain Gozali juga dipanggil Eko Purjianto, Agung Setyabudi, dan I Komang Putra Adnyana. Bahkan, Agung terpilih sebagai kapten tim.
Kini, Eko belum dipastikan bakal dipanggil lagi mengingat cederanya yang belum pulih. Akan tetapi, setidak-tidaknya Semarang akan tetap diwakili oleh Agung dan Komang. Bahkan, kini Edy Paryono ditunjuk mendampingi Kolev bersama Atanas Giorgiev dan Sudarno.
Ketokohan Gozali dan Paryono memang sudah lama "tercium" dan diincar oleh kalangan PSSI. Kedekatan pengusaha biro perjalanan haji dan umrah itu dengan para tokoh kunci PSSI, khususnya Manajer Timnas Andi Darussalam Tabussala tentu memberi andil bagi kiprah besar ini. Andi mengaku menaruh respek dan membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh yang berkemauan untuk dekat dan memahami kondisi psikologis pemain, serta itulah mengapa dia memilih Gozali dan Masfrion dari PSPS Pekanbaru sebagai asisten.
Gozali mulanya menyambut penunjukan itu dengan sedikit keraguan. Dia menghitung, kalau di PSIS saja sekarang dia "tidak terpakai" - berarti secara introspektif merasa dianggap tidak mampu - apakah dia bakal mampu mengemban tugas bangsa di timnas? Namun oleh para sahabatnya, Gozali didorong untuk memenuhi amanat nasional itu, karena diyakini Andi tentu membutuhkan orang-orang terpercaya untuk tugas berat di PPD dan Piala Asia nanti. "Bismillah, saya merasa mantap dengan dorongan para sahabat. Saya juga merasa berterima kasih atas bimbingan Ketua Umum PSIS Sukawi Sutarip selama ini. Saya juga siap belajar dari Pak Andi yang sudah kenyang pengalaman," ungkapnya sebelum bertolak mengikuti rapat PSSI di Jakarta, Kamis lalu.
Bagaimana pula dengan Edy Paryono? Tidak sedikit kalangan sepak bola yang memuji Edy sebagai calon aset timnas yang mempunyai karakter. Dan, PSSI pun tampaknya sudah lama memosisikan dia sebagai "putra mahkota" dalam kepelatihan timnas. Tahun lalu, selama sebulan lebih dia dikirim untuk berguru ke Jerman. Ini pengalaman kedua setelah pada pertengahan 1990-an dia juga menimba ilmu ke Brasil.
"Saya sangat respek kepada Edy Paryono. Selain tekun belajar, dia tidak segan-segan kursus bahasa asing. Bahkan bahasa Brasil pun dia pelajari sebelum berangkat ke sana. Saya rasakan wawasan sepak bolanya semakin meningkat," puji Djoko Yogyanto, kolega Edy yang sekarang berprofesi sebagai notaris.
Bagaimanapun, kepercayaan untuk dua tokoh itu dalam manajemen timnas patut disambut bangga oleh insan sepak bola Semarang. Apalagi, tanda-tanda kebangkitan "era PSSI" untuk sepak bola ibu kota Jawa Tengah ini mulai terasa. M Irfan, kendati gagal mendapatkan tempat dalam skuad SEA Games, sempat mencicipi Pelatnas. Lalu M Ridwan, gelandang PSSI SEAG yang walaupun dipanggil dari klub Pelita Krakatau Steel, tetapi semua tahu dia adalah putra Semarang yang dibesarkan oleh PS SSS. Di tim U-20, PSIS juga menempatkan Yusuf Sutan Mudo, Denny Rumba, Achmad Yaini, dan Eko Prasetyo Ariyanto. Lalu untuk tim U-17, tercatat nama Adityo Denny Laman sebagai pilar.
Bukankah ini bukti awal dimulainya "era Semarang" di timnas?
No comments:
Post a Comment