Monday, September 28, 2015
TIDAK KALAH: Kemampuan pemain lokal Semarang, M Ridwan (nomor 23) tidak kalah dari pemain asing yang dikontrak manajemen PSIS di kompetisi Liga Indonesia XII. (40) - SM/Budi Winarto |
|
Sudah lebih dari 10 tahun Liga Indonesia digulirkan. Ratusan, bahkan
ribuan pemain, keluar masuk dari satu tim ke tim yang lain. Transfer bebas
berkembang pesat. Lebih dari 100 talenta asing tiap tahun ikut menyemarakkannya.
Lalu, bagaimana nasib ''produk-produk'' lokal di klub-klub yang ambisius,
termasuk PSIS Semarang? Wartawan Suara Merdeka, Budi Winarto,
menurunkan tulisannya dalam dua seri.
AKSI-aksi pemain lokal PSIS dalam turnamen Piala Emas Bang Yos
III cukup memikat. M Ridwan, Khusnul Yaqien, Idrus Gunawan, Yusuf Sutan
Mudo, Denny Rumba, Eko Prasetyo, dan lainnya tidak kalah dari pemain-pemain
asing. Apalagi jika dibanding pemain-pemain Indonesia ''sudah jadi'' yang
dikontrak musiman oleh manajemen tim. Tentu saja itu sangat membanggakan. Lantaran mereka merupakan produk lokal hasil pembinaan klub-klub anggota PSIS.
Lihat saja ketika M Ridwan dengan kelincahan dan kecepatannya meliuk-liuk bak belut licin melewati barisan pemain lawan, dari lapangan tengah ke kotak penalti. Begitu pula dengan Idrus Gunawan yang terkenal lugas menjaga daerah pertahanan bersama Eko Prasetyo. Mereka tidak kenal kompromi. Bahkan tak jarang permainan keras dan kasar dilakukan terhadap striker lawan untuk mengamankan daerah pertahanan PSIS.
Di lini depan ada Khusnul Yaqien yang punya fighting spirit tinggi dan juga insting gol tajam. Mantan pemain PS Undip itu begitu gigih melewati adangan pemain belakang lawan, walau sering menjadi sasaran permainan keras dan kasar lawan. Pemain-pemain muda Mahesa Jenar seperti Yusuf Sutan Mudo dan Denny Rumba yang baru memulai debutnya di PSIS musim ini pun sering menghidupkan serangan lewat sayap, dengan mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan crossing.
Namun, untuk memperoleh kematangan dan menjadi anggota tim inti tidak bisa secepat dan semudah membalik telapak tangan.
Perlu proses panjang, ketekunan, dan kerja keras. Bahkan, pemain kelas dunia pun tidak langsung lahir menjadi bintang saat terjun di klub profesionalnya.
Oliver Kahn misalnya. Kiper Bayern Muenchen yang juga anggota timnas Jerman ini butuh waktu tiga tahun setelah memulai debutnya di Bundesliga tahun 1990 untuk menjadi yang terbaik di Liga Jerman. Begitu pula dengan Peter Schmeichel. Kiper timnas Denmark tersebut butuh waktu sekitar 2,5 tahun untuk mencapai kejayaannya bersama klub Brondy Denmark tahun 1987-1991, sebelum direkrut Manchester United Inggris tahun 1991. Ryan Giggs, pemain yang bergabung dengan Manchester United sejak umur 14 tahun (1987) pun baru bisa menjadi starter di tim berjuluk Setan Merah pada musim kompetisi 1991/1992.
Proses panjang itu disadari, dan dilalui juga oleh para pemain lokal PSIS. M Ridwan misalnya, yang akrab disapa Tong Eng ini, sudah lima musim membela tim kebanggaan warga Semarang. Mulai Liga Indonesia VI (1999/2000) hingga LI VIII, dia memakai seragam PSIS. Dua tahun berikutnya dia hengkang ke klub lain, Pelita KS dan Persegi Gianyar. Selepas itu, mudik lagi pada LI XI-XII.
Ridwan baru benar-benar matang sekitar empat tahun setelah menjadi pemain pro. Proses kematangan tersebut, menurutnya, tidak lepas dari kepercayaan dan kesempatan yang diberikan pelatih. Semakin jarang pelatih memberi kesempatan pemain untuk turun bertanding, akan kian lama pemain tersebut mencapai kematangan.
Hal tersebut sudah dialaminya ketika gabung PSIS di LI VI, Divisi I, dan LI VIII. Di tim Kota Atlas itu, pemain kelahiran 8 Juli 1980 tersebut kurang diberi kesempatan bermain penuh sepanjang pertandingan. Tak heran, predikat spesialis babak kedua pun melekat padanya.
Namun setelah merantau ke Pelita KS dan Persegi Gianyar, kesempatan untuk main begitu luas. Pemain yang mencetak sembilan gol saat bergabung di Persegi itu selalu menjadi pemain starter. Jam terbang dan pengalaman tinggi tersebut membuat dirinya semakin matang dan percaya diri dalam mengolah si kulit bundar.
''Jika sering dimainkan, kita bisa tahu karakter pemain-pemain lawan, baik asing maupun lokal. Itu akan memperkaya pandangan kita dalam bermain. Selain itu, mental bertanding pun juga akan semakin baik,'' kata Ridwan.
Pengalaman Tong Eng itu juga dialami Idrus Gunawan. Tempatnya utamanya sebagai stoper di Mahesa Jenar diraih lewat perjuangan keras. Sejak bergabung pada musim ke-7 Liga Indonesia (Divisi I) hingga LI VIII, Idrus jarang dimainkan. Saat tim Kota Lunpia itu diarsiteki Daniel Roekito di LI IX, dia baru mulai mendapat tempat di lini belakang, mendampingi Bonggo Pribadi.
Lalu pada LI X, di bawah asuhan Cornelis Soetadi dan dilanjutkan Hery Kiswanto, Idrus mulai jadi starter. Kemampuannya semakin matang dan terasah kala diasuh oleh Bambang Nurdiansyah. Dia tidak lagi bermain keras dan sembrono menghalau bola, tapi lebih sabar dan taktis.
''Untuk mendapatkan kepercayaan dan diberi kesempatan pelatih, tentu saja kita harus berusaha keras. Selalu belajar dan belajar untuk meningkatkan kemampuan. Dan yang penting, jangan mudah putus asa dan menyerah,'' tegas Idrus. (40)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment