SEMARANG- Kendati SK pengangkatan manajer tim PSIS Semarang untuk
KLI IX belum turun, tetapi di kalangan tokoh bola Semarang beredar kabar
bahwa Yoyok Sukawi, putra Wali Kota Sukawi Sutarip, bakal menduduki jabatan
itu.
Sekum PSIS Prijo Anggoro saat dikonfirmasikan juga membenarkan kabar
tersebut. Bahkan menurut Prijo, Yoyok akan dibantu birokrat tulen Sumarmo,
yang sekarang menjabat kepala Bagian Umum Pemkot Semarang.
"Yoyok Sukawi menjadi satu-satunya nama yang dilirik pengurus
untuk menduduki jabatan tersebut. Ia akan dibantu Pak Marmo (Sumarmo-Red),"
kata Prijo, yang juga kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkot.
Bukankah Yoyok Sukawi belum menguasai pernik-pernik sepakbola? Prijo
menjawab, nantinya bakal dibantu orang-orang yang tahu bola. Yang penting
Yoyok Sukawi memegang manajamennya, sedangkan beberapa asistennya merupakan
"orang-orang bola".
"Yang lebih penting lagi, dari Yoyok Sukawi itu bisa diambil kepemimpinannya.
Apalagi dia seorang pengusaha," katanya.
Selain menjabat wali kota, Sukawi juga menjabat ketua umum PSIS. Kalau
Sukawi sebagai ketua umum mengeluarkan SK pengangkatan anaknya sebagai
manajer tim PSIS untuk KLI IX, maka ada dua putra Wali Kota yang memegang
jabatan penting di institusi sepakbola ini. Sebelumnya Sukawi juga menunjuk
anaknya yang lain, Suka Adi Satya, sebagai Asisten Manajer Tim PSIS Yunior
yang akan berlaga di Kompetisi Liga Remaja/Piala Suratin Tingkat Nasional.
"Legawa"
Yoyok Mardijo, yang dalam dua kompetisi terakhir menjadi manajer tim,
mengaku tidak masalah jika Ketua Umum PSIS menunjuk Yoyok Sukawi sebagai
penggantinya. Sebab, hal itu merupakan wewenang Ketua Umum untuk menentukan
orang-orang yang dianggapnya pantas untuk menduduki jabatan itu.
"Saya legawa jika ada orang muda yang duduk sebagai manajer
tim. karena ini sekaligus untuk proses regenerasi. Biar di Semarang muncul
manajer-manajer tim yang muda usia," katanya.
Ia tidak mempersoalkan penilaian orang bahwa Yoyok Sukawi tak menguasai
bola. Sebab, hal itu bisa dipelajari sambil jalan. Bahkan, dia pun dulu
seperti itu. Semula tidak menguasai sepakbola, kemudian belajar selama
dua periode (Divisi I dan Divisi Utama), sampai akhirnya bisa seperti sekarang.
"Yang penting para asisten manajer sebaiknya merupakan orang-orang
yang tahu sepakbola," katanya. Selain itu, peran pelatih, asisten
pelatih, dan lainnya sangat penting untuk membentuk tim yang solid. (ant-48)
No comments:
Post a Comment